jump to navigation

Hih Dia Pakai Parfum……!!!! Agustus 22, 2008

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat.
4 comments

Parfum dan wanita merupakan bagian yang tak terpisahkan.Saking pentingnya banyak kaum hawa yang tak percaya diri bila tidak memakai benda ini. Sekejap saja kita keluar rumah dijalan, di pasar, di tempat keramaian maka akan dengan mudah hidung kita mencium bau yang semerbak dari wewangian parfum.Berbagai macam merek parfum dijual dari harga di bawah sepuluh ribu rupiah sampai ratusan ribu bahkan ada yang mencapai jutaan.Yang menjadi masalah bukannya merek atau harganya . Sebenarnya boleh nggak sih seorang wanita muslimah keluar dengan memakai parfum? walaupun hanya setetes saja?

(lagi…)

Istri Shalihah dan Sifat-sifatnya Juli 15, 2008

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat.
add a comment

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:‎


فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ


‎“Wanita (istri) shalihah adalah yang taat lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada ‎dikarenakan Allah telah memelihara mereka.” (An-Nisa: 34)‎

Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan di antara sifat wanita shalihah adalah taat ‎kepada Allah dan kepada suaminya dalam perkara yang ma‘ruf6 lagi memelihara dirinya ‎ketika suaminya tidak berada di sampingnya.
Asy-Syaikh Abdurrahman bin Nashir As-Sa‘di rahimahullah berkata: “Tugas seorang ‎istri adalah menunaikan ketaatan kepada Rabbnya dan taat kepada suaminya, karena ‎itulah Allah berfirman: “Wanita shalihah adalah yang taat,” yakni taat kepada Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala, “Lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada.” Yakni taat ‎kepada suami mereka bahkan ketika suaminya tidak ada (sedang bepergian, pen.), dia ‎menjaga suaminya dengan menjaga dirinya dan harta suaminya.” (Taisir Al-Karimir ‎Rahman, hal.177)
Ketika Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menghadapi permasalahan dengan istri-‎istrinya sampai beliau bersumpah tidak akan mencampuri mereka selama sebulan, Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala menyatakan kepada Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

عَسَى رَبُّهُ إِنْ طَلَّقَكُنَّ أَنْ يُبْدِلَهُ أَزْوَاجًا خَيْرًا‎ ‎مِنْكُنَّ مُسْلِمَاتٍ مُؤْمِنَاتٍ قَانِتَاتٍ تآئِبَاتٍ عَابِدَاتٍ‎ ‎سآئِحَاتٍ ثَيِّبَاتٍ وَأَبْكَارًا‎

‎“Jika sampai Nabi menceraikan kalian,7 mudah-mudahan Tuhannya akan memberi ganti ‎kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik daripada kalian, muslimat, mukminat, ‎qanitat, taibat, ‘abidat, saihat dari kalangan janda ataupun gadis.” (At-Tahrim: 5)
Dalam ayat yang mulia di atas disebutkan beberapa sifat istri yang shalihah yaitu:
a. Muslimat: wanita-wanita yang ikhlas (kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala), tunduk ‎kepada perintah Allah ta‘ala dan perintah Rasul-Nya.
b. Mukminat: wanita-wanita yang membenarkan perintah dan larangan Allah Subhanahu ‎wa Ta’ala
c. Qanitat: wanita-wanita yang taat
d. Taibat: wanita-wanita yang selalu bertaubat dari dosa-dosa mereka, selalu kembali ‎kepada perintah (perkara yang ditetapkan) Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‎walaupun harus meninggalkan apa yang disenangi oleh hawa nafsu mereka.
e. ‘Abidat: wanita-wanita yang banyak melakukan ibadah kepada Allah Subhanahu wa ‎Ta’ala (dengan mentauhidkannya karena semua yang dimaksud dengan ibadah kepada ‎Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an adalah tauhid, kata Ibnu Abbas ‎radhiallahu ‘anhuma).
f. Saihat: wanita-wanita yang berpuasa. (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126-127, Tafsir ‎Ibnu Katsir, 8/132)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan:

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ‎ ‎فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيْلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ‎ ‎مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ ‏الْجَنَّةِ شِئْتِ‎

‎“Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga ‎kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ‎ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad 1/191, ‎dishahihkan Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Shahihul Jami’ no. 660, 661)
Dari dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapatlah kita simpulkan bahwa sifat istri ‎yang shalihah adalah sebagai berikut:
‎1. Mentauhidkan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mempersembahkan ibadah hanya ‎kepada-Nya tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatupun.
‎2. Tunduk kepada perintah Allah Subhanahu wa Ta’ala, terus menerus dalam ketaatan ‎kepada-Nya dengan banyak melakukan ibadah seperti shalat, puasa, bersedekah, dan ‎selainnya. Membenarkan segala perintah dan larangan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
‎3. Menjauhi segala perkara yang dilarang dan menjauhi sifat-sifat yang rendah.
‎4. Selalu kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bertaubat kepada-Nya sehingga ‎lisannya senantiasa dipenuhi istighfar dan dzikir kepada-Nya. Sebaliknya ia jauh dari ‎perkataan yang laghwi, tidak bermanfaat dan membawa dosa seperti dusta, ghibah, ‎namimah, dan lainnya.
‎5. Menaati suami dalam perkara kebaikan bukan dalam bermaksiat kepada Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala dan melaksanakan hak-hak suami sebaik-baiknya.
‎6. Menjaga dirinya ketika suami tidak berada di sisinya. Ia menjaga kehormatannya dari ‎tangan yang hendak menyentuh, dari mata yang hendak melihat, atau dari telinga yang ‎hendak mendengar. Demikian juga menjaga anak-anak, rumah, dan harta suaminya.
Sifat istri shalihah lainnya bisa kita rinci berikut ini berdasarkan dalil-dalil yang ‎disebutkan setelahnya:
‎1. Penuh kasih sayang, selalu kembali kepada suaminya dan mencari maafnya.
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ؟ اَلْوَدُوْدُ‎ ‎الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِى إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ‎ ‎حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ ‏زَوْجِهَا، وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوقُ‎ ‎غَضْمًا حَتَّى تَرْضَى‎

‎“Maukah aku beritahukan kepada kalian, istri-istri kalian yang menjadi penghuni surga ‎yaitu istri yang penuh kasih sayang, banyak anak, selalu kembali kepada suaminya. Di ‎mana jika suaminya marah, dia mendatangi suaminya dan meletakkan tangannya pada ‎tangan suaminya seraya berkata: “Aku tak dapat tidur sebelum engkau ridha.” (HR. An-‎Nasai dalam Isyratun Nisa no. 257. Silsilah Al-Ahadits Ash Shahihah, Asy-Syaikh Al ‎Albani rahimahullah, no. 287)
‎2. Melayani suaminya (berkhidmat kepada suami) seperti menyiapkan makan minumnya, ‎tempat tidur, pakaian, dan yang semacamnya.
‎3. Menjaga rahasia-rahasia suami, lebih-lebih yang berkenaan dengan hubungan intim ‎antara dia dan suaminya. Asma’ bintu Yazid radhiallahu ‘anha menceritakan dia pernah ‎berada di sisi Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Ketika itu kaum lelaki dan wanita ‎sedang duduk. Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bertanya: “Barangkali ada seorang ‎suami yang menceritakan apa yang diperbuatnya dengan istrinya (saat berhubungan ‎intim), dan barangkali ada seorang istri yang mengabarkan apa yang diperbuatnya ‎bersama suaminya?” Maka mereka semua diam tidak ada yang menjawab. Aku (Asma) ‎pun menjawab: “Demi Allah! Wahai Rasulullah, sesungguhnya mereka (para istri) benar-‎benar melakukannya, demikian pula mereka (para suami).” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa ‎sallam bersabda:

فَلاَ تَفْعَلُوا، فَإِنَّمَا ذَلِكَ مِثْلُ الشَّيْطَانِ لَقِيَ شَيْطَانَةً فِي طَرِيْقٍ فَغَشِيَهَا وَالنَّاسُ يَنْظُرُوْنَ‎

‎“Jangan lagi kalian lakukan, karena yang demikian itu seperti syaithan jantan yang ‎bertemu dengan syaitan betina di jalan, kemudian digaulinya sementara manusia ‎menontonnya.” (HR. Ahmad 6/456, Asy-Syaikh Al Albani rahimahullah dalam Adabuz ‎Zafaf (hal. 63) menyatakan ada syawahid (pendukung) yang menjadikan hadits ini shahih ‎atau paling sedikit hasan)
‎4. Selalu berpenampilan yang bagus dan menarik di hadapan suaminya sehingga bila ‎suaminya memandang akan menyenangkannya. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ‎bersabda:

أَلاَ أُخْبِرَكَ بِخَيْرِ مَا يَكْنِزُ الْمَرْءُ، اَلْمَرْأَةُ‎ ‎الصَّالِحَةُ، إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا سَرَّتْهَ وَإِذَا أَمَرَهَا‎ ‎أَطَاعَتْهَ وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهَ‎

‎“Maukah aku beritakan kepadamu tentang sebaik-baik perbendaharaan seorang lelaki, ‎yaitu istri shalihah yang bila dipandang akan menyenangkannya, bila diperintah akan ‎mentaatinya dan bila ia pergi si istri ini akan menjaga dirinya”. (HR. Abu Dawud no. ‎‎1417. Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah berkata dalam Al-Jami’ush Shahih 3/57: “Hadits ‎ini shahih di atas syarat Muslim.”)
‎5. Ketika suaminya sedang berada di rumah (tidak bepergian/ safar), ia tidak ‎menyibukkan dirinya dengan melakukan ibadah sunnah yang dapat menghalangi ‎suaminya untuk istimta‘ (bernikmat-nikmat) dengannya seperti puasa, terkecuali bila ‎suaminya mengizinkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يَحِلُّ لِلْمَرْأَةِ أَنْ تَصُومَ وَزَوْجُهَا شَاهِدٌ إِلاَّ بِإِذْنِهِ‎

‎“Tidak halal bagi seorang istri berpuasa (sunnah) sementara suaminya ada (tidak sedang ‎bepergian) kecuali dengan izinnya”. (HR. Al-Bukhari no. 5195 dan Muslim no. 1026)
‎6. Pandai mensyukuri pemberian dan kebaikan suami, tidak melupakan kebaikannya, ‎karena Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda: “Diperlihatkan neraka ‎kepadaku, ternyata aku dapati kebanyakan penghuninya adalah kaum wanita yang kufur.” ‎Ada yang bertanya kepada beliau: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau ‎menjawab: “Mereka mengkufuri suami dan mengkufuri (tidak mensyukuri) kebaikannya. ‎Seandainya salah seorang dari kalian berbuat baik kepada seorang di antara mereka (istri) ‎setahun penuh, kemudian dia melihat darimu sesuatu (yang tidak berkenan baginya) ‎niscaya dia berkata: “Aku tidak pernah melihat darimu kebaikan sama sekali.” (HR. Al-‎Bukhari no. 29 dan Muslim no. 907)
Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga pernah bersabda:

لاَ يَنْظُرُ اللهُ إِلَى امْرَأَةٍ لاَ تَشْكُرُ لِزَوْجِهَا وَهِيَ لاَ تَسْتَغْنِي عَنْهُ‎

‎“Allah tidak akan melihat kepada seorang istri yang tidak bersyukur kepada suaminya ‎padahal dia membutuhkannya.” (HR. An-Nasai dalam Isyratun Nisa. Silsilah Al-Ahadits ‎Ash-Shahihah no. 289)
‎7. Bersegera memenuhi ajakan suami untuk memenuhi hasratnya, tidak menolaknya ‎tanpa alasan yang syar‘i, dan tidak menjauhi tempat tidur suaminya, karena ia tahu dan ‎takut terhadap berita Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:

وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا مِنْ رَجُلٍ يَدْعُو امْرَأَتَهُ إِلَى‎ ‎فِرَاشِهِ فَتَأْبَى عَلَيْهِ إِلاَّ كَانَ الَّذِي فِي السَّمَاءِ‎ ‎سَاخِطًا عَلَيْهَا حَتَّى يَرْضَى ‏عَنْهَا‎

‎“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah seorang suami memanggil ‎istrinya ke tempat tidurnya lalu si istri menolak (enggan) melainkan yang di langit murka ‎terhadapnya hingga sang suami ridha padanya.” (HR. Muslim no.1436)

إِذَا بَاتَتِ الْمَرْأَةُ مُهَاجِرَةً فِرَاشَ زَوْجِهَا لَعَنَتْهَا الْمَلاَئِكَةُ حَتَّى تَرْجِعَ‎

‎“Apabila seorang istri bermalam dalam keadaan meninggalkan tempat tidur suaminya, ‎niscaya para malaikat melaknatnya sampai ia kembali (ke suaminya).” (HR. Al-Bukhari ‎no. 5194 dan Muslim no. 1436)
Demikian yang dapat kami sebutkan dari keutamaan dan sifat-sifat istri shalihah, mudah-‎mudahan Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi taufik kepada kita agar dapat menjadi ‎wanita yang shalihah, amin.

‎1 Atau ia belajar agama namun tidak mengamalkannya
‎2 Tempat untuk bersenang-senang (Syarah Sunan An-Nasai oleh Al-Imam As-Sindi ‎rahimahullah, 6/69)
‎3 Karena keindahan dan kecantikannya secara dzahir atau karena bagusnya akhlaknya ‎secara batin atau karena dia senantiasa menyibukkan dirinya untuk taat dan bertakwa ‎kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala (Ta‘liq Sunan Ibnu Majah, Muhammad Fuad Abdul ‎Baqi, Kitabun Nikah, bab Afdhalun Nisa, 1/596, ‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
‎4 Dengan perkara syar‘i atau perkara biasa (‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
‎5 Mengerjakan apa yang diperintahkan dan melayaninya (‘Aunul Ma‘bud, 5/56)
‎6 Bukan dalam bermaksiat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, karena tidak ada ketaatan ‎kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Al-Khaliq.
‎7 Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Mengetahui bahwasanya Nabi-Nya tidak akan ‎menceraikan istri-istrinya (ummahatul mukminin), akan tetapi Allah Subhanahu wa ‎Ta’ala mengabarkan kepada ummahatul mukminin tentang kekuasaan-Nya, bila sampai ‎Nabi menceraikan mereka, Dia akan menggantikan untuk beliau istri-istri yang lebih baik ‎daripada mereka dalam rangka menakuti-nakuti mereka. Ini merupakan pengabaran ‎tentang qudrah Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ancaman untuk menakut-nakuti , bukan ‎berarti ada orang yang lebih baik daripadaistri-istri Nabi shahabat Nabi Shallallahu ‎‎’alaihi wa sallam (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/126) dan bukan berarti istri-istri beliau ‎tidak baik bahkan mereka adalah sebaik-baik wanita. Al-Qurthubi rahimahullah berkata: ‎‎“Permasalahan ini dibawa kepada pendapat yang mengatakan bahwa penggantian istri ‎dalam ayat ini merupakan janji dari Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk Nabi-Nya ‎Shallallahu ‘alaihi wa sallam, seandainya beliau menceraikan mereka di dunia Allah ‎Subhanahu wa Ta’ala akan menikahkan beliau di akhirat dengan wanita-wanita yang ‎lebih baik daripada mereka.” (Al-Jami‘ li Ahkamil Qur’an, 18/127)

Wallahu ta’ala a’lam‎

Wanita Tak Bisa Masak, gimana yach? Juni 28, 2008

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat.
add a comment

“Sudah mau nikah kok nggak bisa masak,” ledek seorang kakak lelaki kepada adik perempuannya. Si adik yang memang merasa tidak pintar memasak pun tersenyum seraya menjawab, “Ah, ntar juga bisa!” ImageMemang, sepertinya sudah menjadi kesepakatan umum kalau wanita selayaknya harus bisa masak. Pendapat ini bisa dimaklumi karena salah satu tugas utama wanita setelah menikah adalah memasakkan atau menyajikan makanan untuk keluarganya. Akan repot tentunya, jika sang ibu tidak pintar masak. Masak nasi saja sering gosong, masak sayur pun keasinan! Kalau terus-terusan begini, suami bisa hobi jajan di luar. Sedih kan, kalau sudah capek-capek masak, eh suami tidak selera makan? Hal itu tidak boleh dibiarkan berlangsung lama. Berikut ini beberapa hal yang bisa dilakukan agar suami bisa segera menikmati masakan Anda. TERUSLAH BERLATIH Ada pepatah mengatakan, sesungguhnya bisa itu karena biasa. Begitu pula dengan memasak. Jika sejak kecil atau masih gadis seorang wanita rajin membantu ibunya di dapur, insyaallah ia akan lebih mengetahui urusan dapur alias masak-memasak. Kalau sampai menikah ternyata masih belum pintar masak, maka banyak-banyaklah berlatih untuk memasak menu harian. Menanak nasi pun perlu berlatih, agar tidak gosong atau kurang air (mlethis-Jawa). Demikian juga masak sayur, agar bisa pas di lidah, maka Anda harus belajar mengenal dan meracik bumbu untuk berbagai macam sayur. Jangan malu untuk banyak bertanya pada orang yang lebih tahu urusan masak. Misalnya ibu, kakak, tetangga, tukang sayur, atau siapa saja. Bertanyalah tentang berbagai resep sederhana pada mereka. Bisa pula Anda mempraktikkan resep masakan yang ada dalam buku atau majalah. Mulailah dari resep yang bahan dan cara membuatnya paling sederhana. BUANG RASA MALAS Adakalanya seorang wanita tidak pintar masak karena berawal dari rasa malas. “Mending jajan, beli ‘matengan’, tidak perlu repot-repot.” Memang beli ‘matengan’ adalah cara yang praktis. Tapi kalau begitu terus setiap hari, apakah tidak boros? Kalau masih berdua mungkin belum begitu terasa. Bagaimana kalau anak sudah empat atau lima? Apa iya, masih mau jajan terus? Memang, untuk memasak kita perlu repot sedikit. Mempersiapkan segala sesuatunya, dari perapian, peralatan sampai bahan, dan nanti kalau sudah selesai harus membersihkan atau membereskan semuanya. Melelahkan, memang. Tapi begitulah tugas ibu rumah tangga. Namun, kelelahan itu akan segera berganti kebanggaan dan kebahagiaan, tatkala seorang ibu melihat suami dan anak-anaknya menyantap masakannya dengan lahap. Untuk yang belum pintar masak, jangan malas untuk terus berlatih. Setelah terbiasa, nanti akan terbukti bahwa memasak itu bukanlah hal yang sulit. NIATKAN UNTUK IBADAH Bukankah Rasulullah n bersabda bahwa jihad seorang wanita adalah di rumahnya? Mengurus rumah tangga, termasuk mengasuh anak dan memasak adalah ladang jihad bagi wanita. Semua tidak akan sia-sia bila dilakukan dengan ikhlas. Jika diniatkan untuk ibadah, insyaallah segala rasa lelah yang kita rasakan akan berbuah pahala. MASAK BERSAMA Kadang, seorang suami malah lebih pintar memasak daripada istrinya. Karena itu sekali-sekali perlu diadakan acara “masak bersama”. Selain untuk menambah keharmonisan, kegiatan ini juga bisa dijadikan sarana untuk menularkan kepandaian memasak sang suami pada istrinya. Jika suami tidak pintar masak pun, kegiatan masak bersama tetap asyik dilakukan, karena di situ keduanya akan sama-sama belajar. Walaupun memasak adalah tugas seorang istri, tapi tak ada salahnya bila suami juga belajar masak. Jadi, jika kelak istri sedang berhalangan, misalnya sakit atau melahirkan, sang suami bisa menggantikan posisi sebagai koki rumah tangga untuk sementara. JANGAN ASAL ENAK Satu lagi yang perlu diperhatikan oleh para ibu dalam hal masak-memasak. Seringkali untuk “mengakali” rasa yang kurang mantap, ibu kemudian membubuhkan penyedap rasa yang banyak dalam masakan. Padahal, sebagaimana kita ketahui, penyedap rasa kimia (MSG) adalah salah satu zat karsinogenik atau pemicu kanker. Karena itu, kalau bisa sebaiknya dihindari atau diminimalkan penggunaannya. Demikian juga makanan-makanan instan yang banyak mengandung penyedap rasa, misalnya mi instan, sebaiknya tidak terlalu sering dijadikan menu harian. Produk-produk instan, selain mengandung MSG, kadang juga mengandung zat pengawet dan pewarna, yang juga bersifat karsinogenik. Tanpa MSG pun, masakan bisa tetap enak, asal bumbunya proporsional. Masak sup atau soto misalnya, tanpa MSG bisa tetap enak dengan menggunakan kaldu asli yang sudah dimasak/dipanaskan cukup lama. Untuk “memantapkan” rasa, bisa dibubuhkan sedikit gula pasir sebelum masakan dihidangkan. Demikian beberapa hal yang berkaitan dengan masak-memasak. Masih belum pintar masak? Tak ada kata terlambat untuk terus berlatih. (ummuna)

dinukil dari www.majalah-nikah.com

Rumus Kecantikan Wanita Januari 25, 2008

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Umum.
2 comments
  Tidak cantik = Minder dan jarang disukai orang.

Cantik = Percaya diri, terkenal dan banyak yang suka.
AH MASA SIH??

Itulah sekelumit rumus yang ada dalam fikiran wanita atau bisa juga akhwat. Sebuah rumus simple namun amat berbahaya. Darimanakah asal muasal rumus ini? Bisa jadi dari media ataupun oleh opini masyarakat yang juga telah teracuni oleh media- baik cetak maupun elektronik- bahwa kecantikan hanya sebatas kulit luar saja. (lagi…)

KEPADA IBU MUSLIMAH Agustus 22, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Rumah tangga bahagia, Umum.
add a comment

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jalan dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnya, saya tulis beberapa baris berikut ini untuk setiap ibu yang telah rela menjadikan Allah sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya dan Muhammad s.a.w. sebagai Nabinya, Saya menulisnya dari hati seorang anak yang saat-saat ini sedang merenungi firman Allah:

“Dan Robbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebik-baiknya, jika salah seorang diantara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’, janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia. Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah: “wahai Robbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra’: 23-24).

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kedua ibu bapakmu.” (Luqman:14).

Saya menulis baris-baris ini kepada orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku.
Dari Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu berkata: seseorang datang kepada Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. dan bertanya : “wahai Rasulullah, siapakah orang yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik dariku? Beliau menjawab : Ibumu. “tanyanya lagi : “kemudian siapa? Beliau menjawab : ‘Ibumu. ‘tanyanya lagi : ‘kemudian siapa? “Beliau menjawab : ‘Ibumu” kemudian tanyanya lagi : “kemudian siapa? Beliau mejawab : Bapakmu.” (Muttafaq alaih).

Wahai ibuku, bagaimanakah saya harus mengungkapkan perasaan yang terpendam dalam hati ini? Tak ada ungkapan yang lebih benar, yang saya dapatkan, kecuali firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

“Katakanlah: ‘wahai Robbku, kasihilah mereka berdua, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil.” (Al-Isra’:24).

“Wahai ibuku, jadilah – semoga Alah memberi petunjuk – seorang yang mu’minah, yang beriman kepada Allah dan para RasulNya. Jadilah seorang yang rela menjadikan Allah sebagai Robbya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai Nabi dan Rasulnya.
Dari Al-Abbas bin Abdul Muttalib Radiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam. pernah bersabda:
“Telah merasakan nikmatnya iman, orang yang rela menjadikan Allah sebagai Robbnya, Islam sebagi agamanya, dan Muhammad sebagai Rasulnya.” (riwayat Muslim).

Wahai ibuku, hendaklah ibu mempersiapkan diri dengan bekal taqwa kepada Allah Subhanahu wa ta’ala

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan berbekallah, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa.” (al-Baqarah:197).

Perhatikanlah Allah setiap saat, baik ibu dalam keadaan sembunyi maupun terang-terangan.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit.” (Ali Imran:5).

Wahai ibuku, sinarilah seluruh kehidupan ibu dengan sinar Al-Qur’an dan sunnah Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam karena di dalam keduanya terdapat kebahagiaan di dunia dan akhirat. Dan hindarilah wahai ibuku, dari perbuatan yang mengikuti hawa nafsu, karena Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman :

“Maka apakah orang yang berpegang pada keterangan yang datang dari Robbnya sama dengan orang yang (telah dijadikan oleh syetan) memandang perbuatannya yang buruk itu sebagai perbuatan baik dan mengikuti hawa nafsunya.” (Muhammad:14).
Hendaklah akhlak ibu adalah Alqur’an.
Dari Aisyah Radiyallahu ‘anha berkata:
“Akhlak Nabi adalah alqur’an”.

Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik untuk anak-anak ibu, dan berhati-hatilah jangan sampai mereka melihat ibu melakukan perbuatan yang menyimpang dari perintah Allah Subhanahu wa ta’ala . dan RasulNya Shalallahu ‘alaihi wassalam karena anak-anak biasanya banyak terpengaruh oleh ibunya.

Wahai ibuku, jadilah ibu sebagai isteri shalehah yang paling nikmat bagi sang suami, agar anak-anak ibu dapat terdidik dengan pertolongan Allah dalam suatu rumah yang penuh kebahagiaan suami isteri.

Wahai ibuku, saya wasiatkan – semoga Allah menjaga ibu dari segala kejahatan dan kejelekan- agar ibu memperhatikan kuncup-kuncup mekar dari anak-anak ibu dengan pendidikan Islam, karena mereka merupakan amanat dan tanggung jawab yang besar bagi ibu, maka peliharalah mereka dan berilah hak pembinaan mereka.

Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Dan orang-orang yang memelihara amanah dan janjinya.” (Al-Mu’minun:8).
Rasulullah saw bersabda:
“Setiap kamu adalah pemimpin, dan setiap kamu bertanggungjawab terhadap yang dipimpinnya.” (muttafaq alaih).

Wahai ibuku, hendaklah rumah ibu merupakan contoh yang ideal dan benar bagi rumah keluarga muslim, tidak terlihat di dalamya suatu yang diharamkan dan tidak pula terdengar suatu kemungkaran, sehingga anak-anak- dapat tumbuh dengan penuh keimanan, mempunyai akhlak yang baik, dan jauh dari setiap tingkah laku yang tidak baik.
Wahai ibuku, jadilah ibu –semoga Allah memberi taufiq kepada ibu untuk setiap kebaikan- sebagai isteri yang dapat bekerja sama dengan suami ibu dalam memahami problematika dan kesulitan yang dihadapi anak-anak, dan bersama-sama mencarikan upaya penyelesaiannya dengan cara yang benar. Hendaknya ibu bersama bapak mempunyai peranan yang besar dalam memilihkan teman-teman yang baik untuk mereka, dan menjauhkan mereka dari teman-teman yang tidak baik. Perhatikan penjagaan mereka, agar terjauhkan dari sarana yang merusak akhlak mereka, kerena kita sekarang berada pada zaman yang penuh dengan penganjur kerusakan, baik dari golongan manusia maupun dari golongan jin. Perhatikan sungguh-sungguh perkawinan putera-puteri ibu bapak pada masa lebih awal dan bantulah mereka, karena perkawinan itu akan lebih menjaga mata dan keselamatan seksual mereka, dimana Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam telah menunjukkan hal ltu:
“Wahai seluruh kaum remaja, barangsiapa diantara kamu telah mempunyai kemampuan maka kawinlah, karena hal itu lebih membantu menahan pandangan mata dan menjaga kelamin. Dan barangsiapa belum mampu, hendaknya berpuasa, karena itu merupakan obat baginya.” (muttafaq alaih).

Wahai ibuku, peliharalah shalat lima waktu pada waktunya masing-masing terutama shalat fajar, Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman: “Sesungguhnya shalat itu adalah kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.” (An-Nisa’:103).

Usahakan untuk selalu khusyu’ dalam shalat. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:
“Sesunguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam shalatnya.” (Al-Mu’minun: 1-2).

Dan dengan itu, ibu menjadi suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu.
Wahai ibuku, jadilah suri tauladan yang baik bagi putera-puteri ibu dalam keteguhan memakai pakaian hijab syar’i yang sempurna, terutama tutup wajah. Hal itu sebagai ketaatan kita pada perintah Sang Pencipta langit dan bumi dalam firmanNya:
“Hai Nabi, katakanlah kepada para isterimu, puteri-puterimu, para isteri orang-orang mu’min, agar mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah dikenal, karena itu mereka tidak digangu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Al-Ahzab:59).

Wahai ibuku, handaknya rasa malu merupakan akhlak yang ibu miliki, karena demi Allah malu itu termasuk bagian dari iman.

Dari Ibnu Umar Radiyallahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam. pernah melewati seorang dari kaum Anshar yang sedang menasehati saudaranya tentang rasa malu, kemudian Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Biarkan dia, karena sesungguhnya malu itu termsuk bagian dari iman.” (Muttafaq alaih).

Wahai ibuku, hendaknya do’a kepada Allah merupakan senjata bagi ibu dalam mengarungi kehidupan ini, dan bergembiralah dengan akan datangnya kebaikan, karena Robb telah menjanjikan kita dengan firmannya: “Dan tuhanmu berfirman: ‘berdo’alah kepadaKu, niscaya akan Ku perkenankan bagimu.” (Al-Mu’min: 60).
Dari An-Nu’man bin Basyir Radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam bersabda: “Do’a adalah ibadah.” (riwayat Abu Daud, dan Tirmizi, dan katanya: hadist hasan shahih).

Kepada Allah aku memohon agar menjaga ibu dengan penjagaanNya, memelihara ibu dengan pemeliharaanNya, membahagiakan ibu di dunia dan akhirat, dan mengumpulkan kita, ibu-ibu kita, bapak-bapak kita, dan seluruh kaum muslimin dan muslimat di dalam surgaNya yang ni’mat. Sesungguhnya Robbku Maha Dekat, Maha Mengabulkan dan Mendengarkan do’a.

 

www.salafy.or.id

 

KEPADA PUTERI YANG MUSLIMAH Agustus 22, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Rumah tangga bahagia, Umum.
1 comment so far

Segala puji bagi Allah. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Kepada kuncup-kuncup mekar yang beriman, yang terdidik untuk mempunyai rasa malu, kusampaikan ayat-ayat Al-Quran berikut. Karena pembicaraan yang paling baik adalah Kitabullah (Al-Qur’an) dan petunjuk yang paling baik adalah patunjuk Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam.
Dan (ingatlah) ketika luqman berkata kepada anaknya, diwaktu ia memberi pelajaran kepadanya ; Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan Allah, sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar suatu kezaliman yang besar. Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada kedua ibu bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada ibu bapakmu, hanya kepadaKulah kembalimu. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan dengan Aku sesuatu yang tidak ada pengetahuanmu tentang itu, maka janganlah kamu mengikuti keduanya, dan pergaulilah keduanya di dunia dengan baik, dan ikutilah jalan orang yang kembali kepadaKu, kemudian hanya kepadaKulah kambalimu, maka Kuberitakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (Luqman berkata): Hai anakku, sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi, dan berada dalam batu atau di langit atau di dalam bumi, niscaya Allah akan mendatangkannya (mambalasinya). Sesungguhnya Allah Maha Halus lagi Maha Mengetahui.

 Hai anakku, dirikanlah shalat dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang maruf dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar, dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah). Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. Dan sederhanalah kamu dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai. (Luqman 13-19).
Semoga Allah menumbuhkan anda menjadi tanaman dan tumbuhan yang baik, menjaga anda dan kedua orang tua anda dengan penjagaanNya. Sesungguhnya Allah Maha dekat, Maha mengabulkan, dan Maha mendengarkan doa.

dari salafy.or.id

 

KEPADA UKHTI YANG MUSLIMAH Agustus 22, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Rumah tangga bahagia, Umum.
1 comment so far

Segala puji bagi Allah, semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Rasulullah, para keluarga dan para sahabat beliau, serta kepada orang-orang yang mengikuti jejak dan petunjuk beliau sampai hari pembalasan.

Selanjutnya : saya menulis nasehat ini kepada setiap saudariku ukhti muslimah, yang telah rela menjadikan Allah sebagai Robbnya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad Shalallahu ‘alaihi wassalam sebagai Rasul Allah.

Wahai saudariku.
Dari Anas Radiyallahu ‘anhu dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wassalam , beliau bersabda:
“Tidak beriman seseorang diantara kamu sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (Muttafaq alaih).

Maka baris-baris sederhana ini sengaja ditulis untuk anda dari sesama saudara muslim yang bersaksi atas nama Allah bahwa ia sangat mencintai saudarinya sebagaimana cintanya kepada keluarga dan saudari-saudari muslimah lainnya.
(lagi…)

Aku Tidak Pernah Melakukannya! Agustus 22, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Menyelami Dunia, Umum.
add a comment

Abu ‘Imrân al-Jûny berkata,

“Ada seorang laki-laki dari kalangan Bani Israil yang menghalalkan segala cara, tidak mau tunduk terhadap larangan agama. Suatu ketika, ada sebuah keluarga Bani Israil yang berusaha mengirimkan seorang wanita mereka kepadanya untuk menagih sesuatu, namun orang itu berkata kepadanya (wanita tersebut),
‘Tidak akan aku berikan kecuali bila kamu mau merelakan dirimu padaku.’

(lagi…)

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya Agustus 21, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Rumah tangga bahagia, Umum.
4 comments

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.
(lagi…)

KEMUNGKARAN-KEMUNGKARAN WALIMAH Agustus 18, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Ibadah, Rumah tangga bahagia, Umum.
add a comment

I

slam adalah agama yang universal dan paripurna. Ajaran Islam mencakup segala hal, termasuk penyelenggaraan walimah. Segala bentuk acara walimah yang menyelisihi syariat haruslah dijauhi dan ditinggalkan, walaupun telah menjadi kebiasaan dan kebudayaan masyarakat. Diantara kemungkaran-kemungkaran yang patut ditinggalkan adalah :

1.      Ikhtilath (Bercampur baur) antara kaum lelaki dan wanita. Islam melarang percampurbauran antara kaum laki-laki dan wanita tanpa hijab, karena akan menimbulkan kerusakan bagi akhlak dan pribadi ummat.

2.      Membuka aurat, terutama bagi kaum wanita. Kepada para wanita, hendaknya mereka mengingat firman Alloh  :

Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin; hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu” (Al-Ahzab: 59).

 

Apabila terhadap isteri-isteri Nabi yang mana mereka adalah sebaik-baik wanita Alloh memerintahkan mereka untuk berjilbab dan menutup aurat, bagaimana lagi dengan wanita lainnya yang bukan termasuk isteri-isteri nabi?

3.      Bertabarruj (berhias diri) sebagaimana berhiasnya kaum kafir, baik dengan cara mencabuti bulu alis, memanjang-kan kuku dan mengecatnya dan semisalnya. Ingatlah sabda Nabi e: “Barangsiapa yang meniru-niru perbuatan suatu kaum tertentu maka dia termasuk dalam golongan mereka.” (HR Abu Dawud)

4.      Tukar cincin. Ini merupakan budaya orang kafir yang tidak dikenal oleh Islam. Budaya ini berasal dari tradisi orang nasrani ketika mempelai pria memasangkan cincin ke ibu jari mempelai wanita, dia mengatakan, “Dengan nama Bapa”, kemudian dipindahkan lagi ke jari telunjuk sembari mengatakan, “Dengan nama Tuhan anak”, kemudian dipindah lagi ke jari tengah seraya mengatakan, “Dengan nama Roh Kudus” dan terakhir kalinya dia pindahkan ke jari manis seraya mengucapkan, “Amien”.

5.      Kedua mempelai duduk berdua di pelaminan. Ini juga bukanlah bagian dari Islam, bahkan Islam berlepas diri darinya. Karena pelaminan akan menjadikan kedua mempelai sebagai pusat perhatian, dimana seorang lelaki yang asing dapat memandangi wajah si mempelai wanita demikian pula sebaliknya, yang pada akhirnya dapat menyebabkan fitnah dan penyakit hati bagi para pelakunya.

6.      Memperdengarkan musik-musik jahiliyah, apalagi musik-musik yang mengundang syahwat dan melalaikan. Demikian pula acara dansa-dansa dan joget ria, merupakan kemungkaran yang harus dihindari dan dijauhi.

7.      Israaf (berlebih-lebihan) dan Tabdzir (menghambur-hamburkan harta dan makanan). Sesungguhnya walimah yang sederhana namun sesuai dengan sunnah lebih berbarakah dan lebih baik daripada walimah yang mewah namun menyelisihi sunnah.

Diambil dari, BAGAIMANA MERAJUT BENANG PERNIKAHAN SECARA ISLAMI

Oleh,

Moch. Rachdie Pratama, S.Si

Runinda Pradnyamita, S.Ked.