jump to navigation

Kutunggu Izinmu! Juni 18, 2007

Posted by arifardiyansah in Majalah Nikah, Menyelami Dunia.
trackback

Indahnya bila membayangkan menikah. Lebih mudah meraih pahala dan barokah, serta banyak sunnah rasul terjalankan. Bayangan indahnya menikah selalu menemani hari-hariku. “Insyaallah aku siap menikah,” ujarku serius kepada teman, kala itu. “Tapi…,” tak kulanjutkan kalimat pelanku. Temanku balik memandang serius padaku, “Masalah yang dulu lagi, proposalnya nggak berhasil ya?” Aku mengangguk pelan. “Sabar ya, ” ujarnya kembali. Aku tersenyum, hambar.

Dua kali proposal nikah yang kuajukan pada orang tuaku gagal dengan alasan yang hampir sama. Sebenarnya aku sudah sangat ingin menikah. Kuingin segera memiliki mahram yag bisa membimbingku ke gerbang dien yang lurus, membawaku ke manhaj salaf yang belum lama kukenal. Apalagi usiaku kini mendekati kepala 3. Tapi niatku terhalang dengan orang tua, terutama bapak yang sangat melarang aku menikah dengan ikhwan bercelana “cingkrang” (di atas mata kaki).

Sebuah alasan yang tidak syari. Tapi begitulah orang tuaku yang masih awam terhadap agamanya, sehingga tidak tahu sunnah nabi Muhammad b. Ayahku memiliki banyak kekhawatiran bila aku menikah dengan ikhwan seperti itu. Khawatir putrinya akan bercadar nanti setelah menikah. Khawatir jika suamiku ikut jaringan teroris yang suka ngebom orang. Juga takut bila hal tersebut akan mempengaruhi atau menggeser status sosialnya di masyarakat yang juga awam terhadap agama. Ya, ia takut menjadi ‘terasing’ dan ‘berbeda’ di lingkungan masyarakat pada umumnya. Padahal nabi b bersabda, “Sesungguhnya Islam pada permulaannya adalah asing, dan akan kembali menjadi asing seperti pada permulaannya. Maka keuntungan besar bagi orang-orang yang asing.” (Riwayat Muslim).

Sungguh memerlukan perjuangan untuk memahamkan orang tua yang masih minim terhadap agama, apalagi tentang manhaj salaf. Perlu kesabaran dan keistiqomahan. Untuk sekedar memberitahu pun mereka sulit menerima karena sempitnya illmu dien. Tak jarang mereka langsung menolak.

“Pahamkan orang tua dulu, minimal mereka tahu. Tahap selanjutnya, untuk menerima membutuhkan waktu dan proses yang harus dibarengi dengan kesabaran yang teramat luas. Jangan lupa berdoa selalu untuk mereka, agar Allah membukakan hatinya,” begitu saran seorang ummahat setelah mengetahui proposal nikahku belum lama ini juga gagal lagi.

Aku menunggu izin dan ridha bapak yang notabene amat membenci orang bercadar dan bercelana cingkrang, yang masih nguri-uri (melestarikan) kebudayaan Jawa (kejawennya), dan takut status sosialnya di masyarakat akan turun bila kelak putrinya bercadar. Entah sampai kapan aku harus menunggu.

Bapak, kapan engkau izinkan putrimu menikah? Sungguh, putrimu ini telah lama merindukan seorang ikhwan yang bisa membimbing kepada jalan yang lurus. Putrimu membutuhkan seorang suami yang bisa mendidiknya untuk lebih memahami agamanya. Ketahuilah, Bapak. Bukan hanya kemuliaan dunia yang kucari, tapi juga kemuliaan dan keselamatan di akhirat. Karena itu, izinkanlah aku menikah dengan laki-laki yang salih…. (Shafa)

Kolom Ummi Majalah Nikah Februari 2007

Komentar»

1. musyifa' - Oktober 4, 2007

buat saudaraku yang aku cintai karna Allah ,tetap bersabar ya en jangan lupa terus berdoa kepada Allah diwaktu – waktu yang mustajab agar keinginan ukhti terkabul & orang tua ukhti luluh hatinya untuk mengizinkan ukhti meraih kemuliaan didunia serta keselamatan di akhirat,amin.salam kenal dariku Syifa’ di makassar,Insya Allah ana akan ikut mendoakanmu,pesanku jadilah akhwat yang kaffah dengan perbanyak menuntut ilmu syar’i.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: