jump to navigation

Obati Hati dengan As-Sab’ul Matsani Juni 19, 2007

Posted by arifardiyansah in Majalah Nikah, Umum.
trackback

Setiap hari kita membaca surah ini. Paling tidak, 17 kali kita melantunkannya dalam shalat lima waktu. Tidak salah lagi, surah ini adalah surah Al-Fatihah. Surah ini merupakan pembuka kumpulan firman Allah yang diwahyukan kepada Rasulullah b.

Surah yang mulia ini adalah firman Allah yang mengandung intisari Al-Quran, bahkan intisari ajaran Islam. Kandungannya sungguh mulia dan berharga. Di dalamnya terdapat masalah pujian bagi Allah, ma’rifat (mengenal) atas asma-asma Allah yang penting, iman terhadap hari akhir, pengakuan tauhid, pengakuan kelemahan hamba, permohonan petunjuk, obat penyakit hati, serta jalan orang yang dikaruniai nikmat dan jalan orang yang terjauh dari nikmat keimanan.

Sebagai obat penyakit hati, surah yang juga disebut sebagai As-Sab’ul Matsani (tujuh lantunan) ini mempunyai cakupan yang sempurna. Surah ini mengandung petunjuk kesembuhan terhadap pokok-pokok penyakit hati dan penyakit hati yang utama. Berikut ringkasan penjelasan yang disarikan dari Madarijus Salikin, karya Ibnul Qayyim tentang manfaat surah ini terhadap kesembuhan hati.

Rusak Ilmu Rusak Tujuan

Sesungguhnya sumber inti dari bermacam-macam penyakit hati ada dua, yaitu ilmu yang rusak dan tujuan yang rusak. Dari dua sumber ini muncullah penyakit mematikan yang lain yaitu kesesatan dan amarah. Kesesatan adalah buah rusaknya ilmu, amarah adalah buah rusaknya tujuan. Kesesatan dan amarah ini merupakan induk penyakit hati.

Hidayah kepada jalan yang lurus merupakan kesembuhan dari penyakit kesesatan. Permohonan akan hidayah menjadi doa yang paling wajib dipanjatkan oleh setiap hamba, tanpa mengenal waktu, siang dan malam, dalam salat 5 waktu, dan pada saat-saat yang mendesak. Pencarian kesembuhan ini selalu dipanjatkan setiap muslim dalam ayat “ihdinash-shirathal-mustaqiim’.

Untuk mewujudkan kesembuhan dari penyakit kerusakan hati dan maksud dibutuhkan perwujudan iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in secara ilmu, pengetahuan (ma’rifat), amal, dan keadaan. Maksud yang rusak berkaitan dengan tujuan dan sarana. Tujuan yang rusak yang dicapai dengan sarana yang rusak hanya akan menghadirkan bencana. Contoh orang yang seperti ini adalah orang musyrik, pemuas hawa nafsu, tiran yang menopang kekuasaannya dengan segala cara, benar maupun salah. Mereka adalah orang yang paling menyesal karena tujuan mereka rusak dan cara mereka salah. Orang yang mencari tujuan mulia namun tidak menggunakan sarana yang tepat juga akan merugi.

Penyakit terhadap dua kelompok manusia ini hanya akan sembuh dengan obat iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Ini karena ayat ini mengandung komposisi yang tepat dan mencakup seluruh aspek yang harus ditujukan kepada Allah l, yaitu, beribadah kepada Allah saja tanpa kepada selain-Nya, dengan perintah dan syariat-Nya, bukan dengan hawa nafsu, bukan pula dengan pendapat dan konsep manusia, disertai dengan memohon pertolongan kepada Allah dalam beribadah kepada-Nya, tidak menggantungkan kepada kemampuan serta kekuatan diri sendiri juga tidak kepada mahluk lain.

Riya’ dan Takabur

Dua penyakit kronis mematikan yang seringkali mengancam manusia adalah riya’ dan takabur. Obat bagi dua penyakit ini juga sudah tersedia dalam iyyaka na’budu wa iyyaka nasta’in. Obat riya’ adalah iyyaka na’budu, obat takabur adalah iyyaka nasta’in. Sebagaimana kata Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah, “Iyyaka na’budu menolak penyakit riya’, iyyaka nasta’in menolak penyakit takabur.”

Iyyaka na’budu menolak riya’ karena ayat ini menetapkan hanya Allah-lah yang berhak untuk diibadahi, selain Dia tak berhak untuk diberi ibadah. Orang yang riya’ selain mungkin mempersembahkan ibadahnya untuk Allah, ia juga mempersembahkan ibadah untuk manusia agar dirinya dilihat dan dipuji. Ia berarti tidak mengkhususkan ibadah kepada Allah.

Iyyaka nasta’in menolak penyakit takabur karena ia menyatakan bahwa hamba tak akan mampu melakukan ibadah apa pun kecuali dengan pertolongan Allah. Orang yang ujub, kagum terhadap dirinya sendiri, dan takabur, merendahkan orang lain serta menolak kebenaran, tak menyadari bahwa dirinya tak mampu beramal kecuali dengan pertolongan Allah. Seorang hamba tak mampu menempuh jalan kembali kepada Allah kecuali Allah menghendaki hal itu dan menolongnya. Seorang hamba tak kuasa memberi manfaat pada dirinya sendiri kecuali dikehendaki Allah karena itu ia harus senantiasa meminta pertolongan kepada Allah.

Apabila seseorang diberi kesembuhan dari penyakit riya’ dengan iyyaka na’budu, diberi kesembuhan dari penyakit takabur dan ujub dengan iyyaka nasta’in, serta diberi kesembuhan dari penyakit kesesatan dan kebodohan dengan ihdinash-shirathal-mustaqim, berarti dia telah diberi kesembuhan dari segala macam penyakit.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi kita untuk memahami makna-makna dari ayat surah teragung dalam Al-Quran ini, yaitu surah Al-Fatihah. Jangan sampai kita membacanya berulang kali setiap hari dengan angan kosong melompong. Padahal jika kita memahami dan mengamalkannya dengan baik, kita akan diberi kesembuhan dari induk-induk penyakit hati. Wallahu a’lam. (abu ukasyah)

Sumber: Terjemah Madarijus Salikin, Pustaka Al-Kautsar

Nb: karena itu belilah samudra al fatihah terbitan insan cemerlang …

Disarikan dari rubrik bersih Jiwa Majalah Nikah Februari 2007

Komentar»

1. iwan - November 8, 2008

thanks banget ya,

2. sartika - Maret 23, 2009

asslkm,
subhanallah sungguh besar makna yg terkandung dlm surh al-fatihah
semoga ja kt smua mlewti hari2 kt dgn bnyk membca surh al-fatihah.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: