jump to navigation

Kalau Si Kecil Suka Jajan Juni 22, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Anak, Majalah Nikah.
trackback

“Saya heran dengan cucu saya, Bu. Masa’ anak baru TK uang jajannya sehari habis lima ribu!” Ujar seorang nenek yang mengeluh pada tetangganya. Ya, begitulah, anak-anak sekarang kebanyakan memang suka jajan alias boros. Setiap ada jajanan atau penjual mainan lewat di depan rumah, ia selalu ingin membeli.

Anak yang boros dan suka jajan pasti membuat pikiran orang tua resah dan gelisah. Terlebih ketika secara ekonomi keadaan keluarga hanya pas-pasan. Perilaku boros bertentangan dengan ajaran Islam, yang mengajarkan manusia untuk hidup hemat. Suka menghambur-hamburkan uang adalah perbuatan tercela, dan pelakunya pun dicap sebagai saudara setan. Allah l berfirman yang artinya,

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Isra’: 26-27)

Mendidik anak agar hidup hemat adalah tugas mulia. Hal ini merupakan salah satu akhlak luhur yang perlu ditanamkan pada anak sejak kecil. Islam mengajarkan umatnya untuk bersikap tengah-tengah, tidak boros dan tidak kikir. Karena itu, jika Anda menemukan gejala perilaku boros pada anak, Anda harus segera mencegahnya. Sebab, perilaku itu akan berdampak negatif bagi masa depannya. Kecenderungan hidup boros akan terbawa hingga ia dewasa. Ia akan cenderung menghambur-hamburkan uangnya untuk keperluan yang tidak bermanfaat bagi hidupnya.

Mengapa Anak Suka Boros?

Apa sebenarnya yang dimaksud boros? Mengapa anak senang membelanjakan uangnya untuk keperluan yang tidak bermanfaat? Apa dampak negatif berperilaku boros dan bagaimana mengajari anak hidup berhemat?

Pengertian boros memang relatif dan beragam kasusnya. Artinya, boleh jadi pembelanjaan sejumlah uang oleh seorang anak di keluarga tertentu tidak dianggap boros, tetapi oleh keluarga yang lain dianggap boros. Karena itu, konsep boros harus dibatasi secara kasus per kasus sesuai dengan kondisi keuangan keluarga masing-masing. Dengan demikian, boros adalah tindakan membelanjakan uang yang cenderung berlebih-lebihan, menurut tradisi umum yang berlaku dalam masyarakat tertentu, dan di luar batas kemampuan keluarga.

Lalu, mengapa anak suka boros? Setidaknya ada dua faktor yang membuat anak berperilaku boros. Pertama, faktor internal (bawaan), yaitu kecenderungan anak berperilaku boros sejak lahir.

Kedua, faktor eksternal, yaitu dorongan lingkungan keluarga atau pengaruh pergaulan. Maksudnya, jika anak tumbuh dalam lingkungan keluarga yang boros atau bergaul dengan teman yang boros, ia dapat terpengaruh menjadi anak yang boros.

Untuk menyembuhkan penyakit boros ini, orang tua harus menjauhkan anak dari lingkungan yang cenderung berperilaku boros, serta terus menerus memberi pengertian bahwa boros adalah akhlak tercela.

Orang tua sebaiknya juga menyampaiakan kondisi ekonomi keluarga yang semakin sulit agar anak bersikap hemat.

Beberapa Kiat agar Anak Tidak Boros

Berikut ini beberapa kiat untuk menyembuhkan penyakit boros:

1. Memberikan contoh kepada anak bagaimana berperilaku hemat.

Ketika orang tua berperilaku boros dan tidak bisa mengatur keuangannya, biasanya anak akan meniru perilaku orang tuanya. Tampaknya sulit diterima anak jika ibunya suka jajan dan membeli bakso, sementara ia dilarang untuk jajan di luar. Sebaliknya, anak akan terbiasa hidup hemat karena orang tua biasa berhemat dalam mengatur keuangannya.

2. Membiasakan anak sarapan pagi sebelum ke sekolah.

Biasakanlah anak sarapan pagi sebelum berangkat ke sekolaah. Dengan keadaan perut yang kenyang, anak akan lebih konsentrasi dalam belajar sehingga tidak memikirkan jajan. Sebab, ketika belajar, ia sebenarnya sedang memeerlukan energi. Sarapan pagi sangat membantu menambah energi. Di samping itu, orang tua hendaknya tidak memberi uang jajan berlebihan kepada anak, karena merangsang anak untuk jajan berlebihan.

3. Menjelaskan kepada anak bahwa tidak semua jajanan itu sehat.

Seringkali makanan atau jajanan yag dijual di sekolah atau di warung dekat rumah kurang terjamin kebersihannya. Karena itu orang tua hendaknya memberi pengertian agar si anak menjaga kesehatan dan kebersihan makanan. Dengan pengertian seperti itu, anak diharapkan dapat memperhatikan makanannya dan tidak mengikuti keinginan untuk jajan sembarangan.

4. Menyediakan makanan ringan di rumah.

Sediakan di rumah Anda makanan ringan yang sehat dan bergizi. Tentu tidak harus mahal, misalnya keripik kentang yang bisa dibuat sendiri. Selain itu, jika orang tua bepergian hendaknya tidak meninggalkan uang jajan yang berlebihan di rumah. Jika Anda memiliki pelayan di rumah, bekerjasamalah dengannya dalam mendidik anak supaya berhemat.

5. Melatih anak gemar menabung.

Latihlah anak agar gemar menabung dan hemat dalam berbelanja. Misalnya dengan menyisihkan seratus rupiah dari uang jajan untuk dimasukkan ke dalam celengan. Anak akan mendapatkan manfaat yang besar dari menabung. Puluhan ribu atau bahkan ratusan ribu pun dapat diperolehnya ketika celengan dibuka. Dengan demikian, anak akan gemar menabung dan hemat dalam memanfaaatkan uang.

6. Mengajarkan nilai kerja keras dan empati kepada orang lain.

Berilah pengertian kepada anak bahwa untuk mendapatkan uang, diperlukan kerja keras dan gigih sehingga pemanfaatannya harus sehemat mungkin. Selanjutnya, asahlah kepekaan sosial anak dengan menunjukkan kepada mereka bagaimana orang-orang di sekitarnya hidup dalam keadaan sulit. Anda bisa mengajaknya mengunjungi panti asuhan atau memberikan sedekah kepada anak-anak terlantar. Dengan demikian, Anda telah mengajari mereka bagaimana hidup hemat dan memanfaatkan rezeki Allah secara hemat dan tepat.

7. Mengajarkan bagaimana merawat barang milik sendiri.

Jika anak membeli barang-barang keperluannya seperti mainan, pakaian dan sebagainya, berilah pengertian kepada mereka agar mau merawatnya dengan baik. Dengan perawatan yang baik, mainan atau barang milik anak dapat terjaga dan tidak mudah rusak, sehingga pembelian untuk barang sejenis dapat ditekan. Mengajari anak untuk menyimpan mainannya sendiri setelah selesai bermain juga harus menjadi perhatian orang tua.

catatan

Mengajari Anak Menghargai Uang

Selain beberapa kiat di atas, agar anak tidak boros anak juga perlu diajari untuk menghargai uang, misalnya dengan cara:

1. Mengenalkan anak pada kegunaan uang

Cara yang menarik untuk memperkenalkan anak pada kegunaan uang adalah dengan bermain ‘pasar-pasaran’. Buatlah ‘toko’ mainan menggunakan mainan milik anak. Pada setiap mainan ditempeli kertas atau stiker yang memuat harganya. Anda dan anak dapat berperan sebagai penjual dan pembeli. Ketika hendak ‘membeli’ mainan, beri kesempatan pada anak untuk mencocokkan besarnya uang dengan harga yang tertetera pada mainan.

2. Mengajak anak berbelanja

Pada saat berbelanja, jelaskan pada anak bahwa barang-barang yang sudah diambil atau akan dibeli harus dibayar dengan uang. Kalau tidak, barang-barang itu tidak bisa dibawa pulang. Jelaskan pula bahwa setiap barang harganya berbeda. Beri pula anak pengertian bahwa agar uangnya cukup, hendaknya berhemat dengan tidak membeli sesuatu yang tidak perlu.

3. Katakan bahwa uang harus dicari

Anak usia 2-3 tahun dapat diberi pengertian bahwa untuk memperoleh uang, orang harus bekerja. Kepergian ayah ke kantor atau berdagang setiap hari adalah untuk mencari uang. Uang itulah yang nantinya digunakan untuk membeli semua kebutuhan keluarga, termasuk mainan yang diinginkannya dan susu yang diminumnya setiap hari.

4. Bersikaplah tegas

Anak butuh sikap yang konsisten. Ketika Anda menolak permintaannya yang tak mungkin Anda penuhi, ia akan terus merayu dan membujuk Anda dengan kemarahannya sampai Anda luluh dan jatuh kasihan melihatnya menangis. Jika anak berhasil ‘memaksa’ Anda mengeluarkan uang dengan cara-cara seperti ini, anak menangkap pesan Anda bahwa ‘uang tidak ada artinya.’ Selain itu anak juga belajar bahwa kalau ia menangis atau marah, ia akan mendapatkan apa yang diinginkannya. Sekali Anda mengatakan ‘tidak’, Anda harus tetap konsisten dengan sikap Anda, meski anak menangis atau merengek.

Dengan mengajari anak menghargai uang, diharapkan anak bisa belajar berhemat dan tidak berlaku boros lagi. (Oel, dari berbagai sumber)

Artikel bina Anak Shaleh majalah nikah januari’07

Komentar»

1. Gugun - Agustus 7, 2007

Menurut saya, kalo si kecil suka jajan sebaiknya di suruh tidur aja, biar ga jajan terus, gitu…!

2. Thia - Februari 19, 2009

Sama persis kayak Pram 3 th, bangun pagi aja sudah minta jajan, kebetulan Pram amandelnya besar, jadi kalau Pram sudah merengek minta jajan, biasanya saya peluk dan kasih pengertian, kalau banyak jajan amandelnya tambah besar, nanti harus di bawa ke dokter, harus minum obat. Boleh jajan tapi nanti setelah makan, dan janji ya.. jajannya cukup 1 kali sehari. Ya sih kadang berhasil di bujuk, tapi ya kadang nangis juga hihi

bunda azka - Mei 2, 2011

iya,kdang anak ku azka 2 thn jajannya udh tau alfa. sehari ada 4 kali minta ke alfa mart.kdang berhasil kadang gak klo di kasi pengertian..

3. Zahra Afifa Rahman - September 17, 2011

menurut saya tidak ada jawabannya.saya malah jadi tambah pusing…

4. Nurmala Sari - Januari 20, 2012

Alhamdulillah anakku yg pertama(6th-SD klas 1) tidak suka jajan.malah klo jajan aku yg nawarin, mau jajan g kak? Kdg mau kdg engga.sampe skrg klo sekolah pun slalu aku bawain bekal (nasi+lauk) d tambah 1 macam jajanan plus air putih kdg tambah susu kotak. Dia udah seneng.kalaupun bawa uang dia cuma minta Rp.1000 u/ beli gambaran.Tp anakku yg ke2… Jajan mulu … Klo g diturutin nangis sekenceng2nya tp itu klo ada ayah’a atau nenek/mbah nya saja.klo d rmh cuma ada saya, si kecil pinter ga rewel.saya takutnya jd kebiasaan sampe gede … Boros … Saya sayang anak saya makanya saya bersikap TEGAS … Untuk kebaikan anak saya … InsyaAllah saya bisa mengontrol keinginan jajan si kecil … Amin


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: