jump to navigation

MAAFKAN IBU MERUSAK FITRAHMU Agustus 9, 2007

Posted by arifardiyansah in Dunia Akhwat, Majalah Nikah, Menyelami Dunia.
trackback

Aku seorang wanita berusia sekitar 27 tahun. Dua tahun yang lalu aku melahirkan seorang anak ke dunia. Hanya saja mungkin keadaanku sebagai seorang ibu berbeda dengan ibu-ibu yang lain. Mereka senantiasa memandang wajah putra dan putrinya dengan tatapan kasih sayang, bangga dan penuh cinta. Sedangkan aku? Yang kudapat saat menatap bola matanya adalah kepedihan yang teramat perih dari kisi-kisi hati yang tersayat sesal.

Sebelum peristiwa pahit itu menyapa dalam hidupku, kehidupanku yang sederhana senantiasa diliputi oleh ketenangan. Aku bahagia dengan keadaanku, dengan rutinitasku. Setiap hari kujalani dengan hati yang riang sebagai seorang wanita. Kebanggaanku pada kehormatan senantiasa kujaga demi satu mimpi mendapatkan keluarga bahagia suatu saat nanti. Hingga sosok itu hadir menghancurkannya.

Peristiwa itu bermula saat aku bekerja sebagai salah satu staf Tata Usaha di sebuah Akademi Kesehatan, di kota Daeng. Aku berkenalan dengan seorang pria yang mengaku bujang. Dia juga bekerja sebagai staf Tata Usaha di kampus tempatku bekerja, namun jabatannya lebih tinggi dariku.

Awalnya,hubungan kami biasa saja. Saling ber-say hello, bercerita, bercanda, bertegur sapa. Sesuatu yang lazim dilakukan oleh sesama pegawai staf. Apalagi dalam satu kantor. Hingga waktu terus berjalan, dan hubungan kami semakin akrab. Semuanya mulai menjadi sesuatu yang tidak biasa lagi.

Jujur saja, dalam hal agama, pengetahuanku memang tidak terlalu dalam. Orang mungkin biasa mengatakannya “awam.” Dalam pikiranku, bergaul dengan lawan jenis itu adalah sesuatu yang biasa. Seperti yang terjadi di tengah masyarakat umumnya. Apalagi aku dilahirkan dari lingkungan keluarga yang pendidikan agamanya “biasa-biasa saja,” tidak mengenal apa itu tarbiyah, hijab, ikhtilath,  dan istilah-istilah yang lain.

Sebenarnya aku tidak pernah berkeinginan untuk dekat dengannya, karena pertimbangan beda agama—dia seorang nasrani. Namun rayuan demi rayuannya, perjuangannya mendekatiku, janji manisnya, perhatiannya yang berlebihan dan tidak henti-henti meski selalu kutolak dengan cara yang halus, sedikit demi sedikit meluluhkan hatiku. Gayung pun bersambut, akhirnya kuterima uluran tangannya. Waktu itu aku tidak berpikir untuk serius. Hanya sekedar pengisi waktu saja. Apalagi dia sudah banyak berkorban untukku, dan aku merasa kasihan padanya. Waktu itu aku berpikir suatu saat nanti aku akan minta putus. Mudah kan?

Hubungan kami pun berjalan secara rahasia, back street. Untuk menghindari desas desus penghuni kampus.     

Seiring dengan waktu yang mengantar kebersamaanku dengannya, entah mengapa tanpa sadar aku mulai menyukainya, mencintainya. Aku tidak tahu, apa yang telah membuatku begitu tergila-gila kepadanya. Kehidupannya sederhana, wajahnya malah di bawah rata-rata. Apa karena kelihaiannya mengumbar rayuan gombal, menjadikanku merasa tersanjung dan berbunga-bunga?

Tak pernah kusangka sebelumnya, hubunganku dengannya sudah melewati ambang batas moral dan norma agama. Tragedi yang tak mungkin pernah bisa kulupakan dalam lembaran sejarah hidupku. Aku hamil. Aku tidak tahu, iblis mana yang merasukiku waktu itu. Mengapa aku bisa menjadi sehina ini? Mengorbankan sesuatu kepada seseorang yang sebenarnya tidak berhak dan tidak boleh mengusiknya.

            Aku tidak tahu harus berbuat apa. Yang bisa kulakukan hanya memohon kepadanya untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya terhadapku.

Ia bersedia menikahiku dengan satu syarat, aku harus keluar dari Islam dan masuk ke agamanya. Menjadi seorang nasrani. Ternyata orang yang selama ini mencurahkan perhatiannya—yang kukira tulus untukku—adalah seorang misionaris. Istilah ini juga baru kukenal setelah semuanya sudah terlanjur terjadi. Selama ini istilah itu hanya lewat saja di kepalaku. Masuk telinga kiri, keluar pun juga lewat telinga yang sama. Aku tidak pernah membayangkan jika akan menjadi korbannya. Aku tidak pernah menduga kalau istilah dan kekhawatiran sebagian kaum muslim tentang misi itu ternyata menimpa kehidupanku. Mirisnya, karena aku terlanjur menjadi korbannya, kakiku sudah sulit dan mungkin tidak bisa lagi aku tarik kembali. Yang ada di kepalaku saat itu bukan lagi tentang aqidahku, tetapi tentang makhluk kecil dalam  rahimku. Tentang aib, tentang calon bayi yang aku juga mulai mencintainya. Aku tidak ingin menggugurkannya. Ia darahku dan aku ingin merasakan desahan nafasnya. Merasakan kaki-kaki kecilnya nanti akan meronta di dalam dekapanku.

Otakku sudah buntu, bagiku sudah tak ada lagi pilihan lain. Aku tidak sanggup menghadapi aib ini sendiri, imanku begitu lemah. Aku tidak mau bayiku terlahir tanpa ayah dan akan dicemooh kelak di tengah masyarakat, ditambah lagi siapa yang akan menanggung beban ekonomi kami nanti? Sedangkan aku sudah dipecat dan menjadi salah satu dari sekian banyaknya pengangguran yang ada di kota ini. Akhirnya, kuikuti keinginannya. Kujual akidahku dengan harga yang sangat murah dan tak bernilai. Kulepas jilbab yang selama ini menutup kepalaku, beralih ke agamanya, murtad dari agama Islam yang benar dan suci.

Tapi lagi-lagi, keputusanku itu bukanlah hal yang tepat. Saat ini, meskipun ia sudah berhasil menjadikanku sebagai salah seorang korban misinya, ia tengah berusaha mendekati dan mengejar seorang mahasiswi, tetap di kampus yang sama. Korban misi yang berikutnya. Aku sama sekali tidak berdaya, aku sangat lemah dan pengecut. Aku selalu ketakutan dengan ancaman-ancaman dan perlakuannya yang keras dan kasar. Aku ketakutan pada kekasaran tangannya yang selalu menyiksa tubuhku. Rasanya perih. Aku menjadi semakin lemah. Aku tak tahu mengapa harus menjadi seperti ini? Padahal bisa saja aku lari menjauh dari hidupnya. Tapi lagi-lagi tetap saja aku tidak bisa. Ada yang mengikatku dengannya, sesuatu yang tidak aku mengerti.

Tapi hatiku sedikit lega saat mendengar bahwa mahasiswi itu memiliki sahabat seorang akhwat berjilbab besar yang selalu bersamanya. Akhwat itu pastilah lebih mengerti tentang pengkristenisasian dan akan memahamkan kepadanya. Sehingga mau tidak mau, misionaris yang saat ini sudah menjadi suamiku sulit untuk bisa mendekatinya.

Saat kisah ini kututurkan, aku masih dalam keadaan seperti ini, terkatung dalam penderitaan dan penyesalan. Penderitaanku ini mungkin adalah balasan atas dosa besar yang telah kuperbuat.

Hanya ini yang bisa kulakukan untuk para calon ibu di mana pun berada. Menuturkan kisah ini untuk ditulis dan dibaca, sebagai pelajaran bagi seluruh perempuan—khususnya para remaja—bahwa misionaris sedang berkeliaran di sekitar kita dengan metode-metodenya yang beragam. Selagi masih sempat, belajarlah tentang agama Allah. Jangan tunggu sampai menyesal seperti keadaanku sekarang. Jangan menunggu sampai kau merasa bingung dengan tindakan apa yang harus kau lakukan setelah kehilangan kehormatan.

Selagi muda, belajar dan belajarlah untuk memperkuat aqidah keislaman yang mulia. Kenalilah mereka dari metode-metode apa saja yang mereka gunakan. Tingkatkan kewaspadaan dan tolong sebarkan pada saudarimu yang lain. Agar tidak lagi terjadi tangis penyesalan seperti yang aku alami. Agar tidak ada lagi ‘perusakan fitrah’ terhadap bayi-bayi yang tak berdosa. Jika ibu mereka adalah Islam, maka insyaallah anaknya juga pun akan Islam.

Habiskan waktumu untuk ilmu, dan jangan kau habiskan untuk mencari-cari trend model terbaru, berjalan di mall tanpa manfaat atau menghabiskannya di kegelapan malam dengan lelaki yang kau pandang sebagai kekasih. Mereka bukan kekasih, tetapi srigala yang ingin menelanmu bulat-bulat. Bacalah buku-buku atau majalah-majalah islami. Jadilah wanita yang cerdas dan tangguh. Belajarlah dari kesalahan dan kelemahanku. Belajarlah dari penyesalan dan penderitaanku. Sungguh … apa yang kualami sangat menyakitkan. Kau akan merasa antara hidup dan mati. Tak ada lagi senyum ceria. Air mata pun mengering. Jangan buang waktu  selagi kau bisa meniti dan merencanakan masa depanmu.

Aku hanya bisa bercerita, setidaknya semoga engkau bisa merenung barang sedetik. Sekali lagi,  belajarlah dari hidupku! Dan tolong doakanlah aku semoga saja suatu saat nanti keberanian itu akan muncul dalam diriku, sehingga aku bisa kembali ke jalan-Nya yang benar. Mudah-mudahan Allah mendengar doamu meski hanya seorang di antaranya. Tolong doakanlah aku barang semenit saja. Karena saat ini aku benar-benar merasakan ketidakberdayaan sebagai seorang wanita dan sebagai seorang manusia.

“Anakku, maafkan ibu karena telah merusak fitrahmu. Cepatlah besar untuk bisa menentukan sendiri jalan hidupmu.”

Semua bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (Riwayat Al-Bukhari)

§         Ditulis oleh SAS, dari penuturan seorang sahabat. Semoga Allah selalu menjagamu. 24 Juli 2005

Kisahnyata Majalah Nikah edisi April 2006

Komentar»

1. dendy - Oktober 25, 2007

masya 4W1…..

2. kyai soleh darat - Juni 21, 2008

hati hati…….
1. utk muslimah…..hati-hati n jagalah dirimu baek2
2. utk muslim…..hati-hati jangan korbankan muslimah
3. untuk misionaris…..hati-hati….ada petrus…

3. x - Februari 14, 2009

innalillahi wainna ilaihi rajiun, bersabarlah wahai sahabatku hanya allah lah maha pembuat perhitungan paling cepat yang akan membalas kekejaman suamimu. aku doakan engkau. amin

4. anisa - November 9, 2009

astafigrullah… smga allah membalas ke2jaman suami mba…
bersabarlah mba allah maha tau ingsaallah allah slalu menyertai mba…
jnag takut dlam kebenaran mba cz allah slalu berada dsmping mba…

5. wi - November 18, 2009

Astaghfirullah….ku doa kan semoga Allah mengampuni dosa2 yg sudah terjadi namun menurutku doa tanpa usaha..apalah artinya berjuanglah untuk keluar dari ketakutan2 dunia InsyaAllah walau tanpa suami Allah akan tetap menjamin kehidupan mu dan anakmu jika engkau percaya Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang Bismillah kembalilah pada jalan yang diridhoiNya.

6. madav abdul qodir - Maret 10, 2011

masya allah.. akhwat janganlah kau merasa aneh dengan banyaknya kehinaan yang datang selagi kau berada di dunia yang fana ini.. kita cuma harus berusaha sebisa mungkin untuk keluar dari kehinaan tersebut.. demi allah keluarlah dari agama kristen itu walau mati yang harus kau hadapi…
do’a kami akan selalu menyertaimu, biarlah si misionaris itu menjadi urusanNya.. innallaha sariiul hisab…


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: