jump to navigation

Bolehkan Mengatakan Dia Syahid? November 26, 2008

Posted by arifardiyansah in Umum.
trackback

Ditanya yang mulia Syaikh Muhammad bin Sholih al-Utsaimin :

Apakah boleh memutlakkan (gelar) Syahid kepada peseorangan tertentu dan dikatakan asy-Syahid Fulan?


Asy-Syaikh menjawab :

Tidak diperkenankan bagi kita mempersaksikan kepada perseorangan tertentu (mu’ayan) dengan menyatakan ia syahid, hingga sekalipun orang itu mati terbunuh dengan cara didhalimi atau ia mati dalam keadaan mempertahankan kebenaran, tidak diperkenankan kita mengatakan Fulan Syahid. Walaupun hal ini menyelisihi dengan apa yang ada pada manusia hari ini, yang mereka mempermudah pemberian syahadah (kesaksian syahid) ini dan mereka jadikan tiap-tiap orang yang terbunuh walaupun ia mati terbunuh dalam cabang kejahiliyahan, dengan tetap menggelari mereka dengan syahid. Hal ini adalah haram, karena perkataanmu terhadap seseorang yang terbunuh dengan (sangkaan) syahid memerlukan syahadah (persaksian) yang kelak engkau akan ditanya tentangnya pada hari kiamat dan juga kelak dikatakan kepadamu, apakah engkau memiliki ilmu (pengetahuan) bahwasanya ia terbunuh dalam keadaan syahid?

Oleh karena itulah Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda : “Tidaklah dari seorang yang terluka yang berperang di jalan Allah dan Allahlah yang lebih mengetahui tentang siapakah yang benar-benar terluka berperang di jalan-Nya hingga datang hari kiamat, yang (menunjukkan) lukanya mencucurkan darah, warnanya berwarna darah dan baunya harum seperti kesturi.” Maka perhatikanlah sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, “dan Allahlah yang lebih mengetahui tentang siapakah yang benar-benar terluka berperang di jalan-Nya.”

Karena sesungguhnya sebagian manusia terkadang nampak pada dhahir mereka berperang untuk meninggikan kalimat Allah, akan tetapi Allah lebih mengetahui apa yang berada di dalam hatinya dan bisa jadi apa yang ada di dalam hatinya menyelisihi apa yang dinampakkan perbuatannya.

Adalah imam Bukhari –semoga Allah merahmatinya- membuat suatu bab tentang masalah ini dalam shahihnya dengan “Bab tidak mengatakan Fulan Syahid”, karena sesungguhnya tempatnya persaksian adalah di dalam hati, dan tak ada satupun yang mengetahui isi hati kecuali Allah –Azza wa Jalla-, dan perkara niat adalah perkara yang besar/agung. Betapa dua orang lelaki melaksanakan sebuah perkara namun diantara keduanya bagaikan langit dan bumi, yang demikian ini dikarenakan niat.

Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa salam, “Sesungguhnya tiap-tiap amal tergantung niatnya dan tiap-2 orang adalah apa yang ia niatkan, barang siapa berhijrah karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya adalah karena Allah dan Rasul-Nya, barangsiapa yang berhijra untuk menggapai dunia atau menikahi wanita, maka hijhrahnya adalah pada apa yang ia niatkan.”

Dialihbahasakan dari sahab.net secara bebas oleh Abu Salma bin Burhan dari sahab.net

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: