jump to navigation

Menangis Bersama, Karena Takut Kepada Allah… Agustus 5, 2009

Posted by arifardiyansah in Rumah tangga bahagia.
Tags: ,
trackback

Nabi n bersabda, “Demi Allah, kalau kalian mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya kalian akan sedikit tertawa dan banyak menangis, dan kalian juga tidak akan bersenang-senang terus dengan istri kalian di atas kasur, lalu kalian akan keluar menuju pegunungan (tempat-tempat menyepi dan beribadah) untuk beribadah kepada Allah.”

Menikmati Hidup Berumah tangga
Kehidupan rumah tangga adalah karunia, karena di situ bisa tercipta ketenteraman, cinta, dan kasih sayang. Karenanya, orang yang menikah bolehlah berkeyakinan bahwa ia tengah menyongsong bahagia.
Bahagia, tetaplah bahagia. Siapapun berhak mengejarnya. Manusia hidup memang untuk mencari bahagia. Ajaran Islam juga diturunkan untuk menyempurnakan makna bahagia.
Tapi, di balik setiap kebahagiaan itu, dan di balik setiap upaya mengejar kebahagiaan itu, ada rambu-rambu yang harus ditaati. Bila tidak, kebahagiaan itu tak ‘kan pernah ada. Bila pun ada, pasti hanya sejenis fatamorgana yang hanya menipu panca indera. Selebihnya, kebahagiaan sejati itu hanya ada dalam ketaatan kepada-Nya.
Karena itulah, maka setiap suami diberi tugas penting oleh Allah yang wajib diemban setiap waktu dan pada setiap kesempatan: “Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu. Penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap perintah yang diserukan-Nya kepada mereka dan mereka selalu mengerjakan perintah yang diserukan.” (At-Tahrim: 6)
Qatadah v menjelaskan ayat ini, “Yakni, Anda menyuruh mereka agar menaati Allah, mencegah mereka dari bermaksiat pada-Nya, memimpin mereka sesuai dengan perintah Allah, menyuruh dan membantu mereka dalam hal itu. Jika Anda melihat kemaksiatan, cegahlah dan jauhkan mereka darinya.”

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha v mengatakan, “Kewajiban suami sebagai pemimpin rumah tangga adalah mendidik istri-istrinya semaksimal mungkin agar mereka melaksanakan kewajibannya.”
Saat menikmati kehidupan rumah tangga, seorang muslim dan muslimah senantiasa sadar, bahwa tanpa ketaatan, tak ada kenikmatan hakiki yang dapat mereka rasakan. Ibarat ungkapan salah seorang ulama salaf, “Kebahagiaan itu tercipta melalui tiga kalimat:
1. Menjalankan perintah Allah.
2. Puas dengan rezeki yang diberikan oleh Allah.
3. Ridha terhadap takdir yang ditetapkan oleh Allah.
Artinya, tanpa menjalankan perintah Allah, kebahagiaan itu tak akan pernah ada.
Dapatkah seorang muslim atau muslimah berbahagia dengan gelimang harta, bila harta itu mereka peroleh dengan kemurkaan Allah yang Mahaperkasa?
Dapatkah seorang muslim dan muslimah berbahagia dengan segala kekayaannya, bila mereka selalu berbuat durhaka kepada Allah yang Maha Mengetahui segalanya?
Dapatkah mereka berbahagia, bila hati mereka dipenuhi kabut gelap kemaksiatan? Bila mata hati mereka terutupi asap dosa dan pelanggaran?
Dapatkah mereka berbahagia, bila mereka mereka berdosa, namun jiwa mereka tak juga tunduk untuk taat kepada-Nya?
Tidak, itu tak mungkin terjadi selamanya.
“Tidaklah dunia ini melainkan hanya kenikmatan yang memperdaya.پh (Ali Imran: 185)
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main. Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui.“ (Al-Ankabut: 64)

Membiasakan Kebersamaan dalam Ibadah
Kebersamaan itu indah. Bila dalam kehidupan pasutri kebersamaan itu ibarat taman surgawi, maka kebersamaan dalam beribadah adalah Taman Firdausnya.
Ya, setiap kita tentu sangat menikmati kebersamaan bersama keluarga. Bersama istri dan anak. Makan bersama, bepergian bersama, bergembira bersama. Alangkah indahnya…. Tidak sedikit keluarga yang kehilangan saat-saat indah tersebut, karena banyak hal. Karena “alasan” sibuk, karena terburu-buru, atau karena sekadar tak terbiasa. Lenyaplah romantisme dalam kehidupan rumah tangga yang begitu indah. Betapa ruginya!
Tapi, ada yang lebih rugi lagi. Yaitu mereka yang tak merajut saat-saat indah bersama dalam beribadah.
Mendengarkan istri dan anak-anak melantunkan al-Quran di pagi buta, saat suasana masih sepi senyap, tentu keindahan yang begitu memikat. Melihat anak-anak dan istri melaksanakan shalat sunnah di waktu malam, tidur dalam balutan doa dan dzikir, sungguh merupakan kebahagiaan yang tak ternilai harganya.
Itulah sebagian dari makna hidup mengikuti petunjuk-Nya. Betapa indahnya hidup di bawah naungan petunjuk-Nya.
“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (Al-Maidah: 16)

Menghidupkan Tangis, Seperti Menghidupkan Tawa
Hidupkanlah suasana ceria dalam rumah tangga. Biasakanlah tertawa dan bergembira bersama istri dan anak-anak yang dicinta. Namun jangan lupa, biasakan pula menangis karena Allah, sebagaimana Anda membiasakan istri dan anak untuk tertawa bersama. Caranya? Ajarkan anak dan istri kekhusyuan dalam ibadah dan bermunajat kepada-Nya. Tanamkan dalam diri mereka rasa takut terhadap dosa dan bermaksiat kepada Allah.
Imam Ahmad, dalam riwayat Mihna bin Yahya mengungkapkan, “Sesungguhnya kebahagiaan mereka dalam Islam sebatas kebahagiaan yang mereka rasakan dalam shalat dan kecintaan mereka pada Islam, sebatas kecintaan mereka pada shalat. Maka kenalilah dirimu, wahai hamba Allah. Jangan sampai engkau berjumpa dengan Allah l sedang tiada nilai Islam dalam dirimu. Sesungguhnya nilai Islam dalam hatimu sebanding dengan nilai shalat dalam hatimu.”
Kita banyak mengajarkan istri dan anak tentang beragam kenikmatan dunia. Tentang makanan, minuman, aktivitas keseharian, tentang teman, tentang alam, dan keindahan segala sesuatu. Tapi, seberapa banyakkah kita mengenalkan tentang keindahan surga? Tentang kerinduan seorang muslim terhadap ampunan dan keridhaan Penciptanya?
Banyak di antara kita mengajarkan tentang hukum halal dan haram kepada anak-anak kita, tapi di sisi lain justru menjejali mereka dengan permainan, dosa, dan kemaksiatan. Padahal, Nabi n telah menegaskan, “Apabila seorang mukmin melakukan perbuatan dosa, pasti akan terbentuk noktah hitam di hatinya. Kalau ia bertobat dan memohon ampun, hatinya akan kembali menjadi bersih. Namun bila ia terus mengulanginya, noktah hitam itu semakin bertambah sehingga mendominasi hatinya tersebut, saat itulah noktah tersebut berubah menjadi raan, seperti disebutkan dalam Al-Quran, ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu telah menjadi raan yang menutup hati mereka.’ (Al-Muthaffifin: 14).”
Seorang pujangga Arab mengatakan,
رَأَيْتُ الذُّنُوْبَ تُمِيْتُ الْقُلُوْبَ وَيُوْرِثُ الذُّلَّ إِدْمَاُنُهَا
وَتَرْكُ الذُّنُوْبِ حَيَاةُ الْقُلُوْبِ وَخَيْرٌ لِنَفْسِكَ عِصْيَانُهَا

Aku tahu, bahwa dosa-dosa itu mematikan hati
Bila kecanduan dosa, akan lahir kehinaan jiwa
Meninggalkan dosa berarti menghidupkan hati manusia
Maka yang terbaik bagi kita adalah meninggalkannya
Senang, mendengar istri dan anak tertawa riang bergembira. Namun, sungguh syahdu dan menenteramkan hati, melihat air mata meleleh di pipi mereka karena kekhusyuan dalam shalat, dalam bermunajat dan berdoa.
Tawa gembira anak-anak dan istri adalah hal yang sangat menyenangkan diri kita. Tapi tangis mereka di malam hari saat beribadah kepada Allah adalah siraman rohani yang tak ternilai harganya. Ajarilah istri dan anak-anak kita untuk menikmati dunia yang penuh berkah ini. Tapi, ajarkan pula mereka bercengkerama dengan air mata yang mengalir deras karena takut kepada-Nya….

Tulisan Ustadz Abu Umar Basyier

Komentar»

1. Emka Edisi Baru - Juli 17, 2011

Sip lah.. heu3


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: