jump to navigation

Awas, Wahhabi Menggusur dan Meratakan Kuburan !!! September 2, 2012

Posted by arifardiyansah in Nasihat Ulama, Syariat, Umum.
Tags: , , , , ,
trackback

Ketika dakwah tauhid yang dilancarkan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab mulai menampakkan pengaruhnya di Jazirah Arab, maka pasukan muwahhiddin atas perintah penguasa Jazirah Arab saat itu, Emir Muhammad ibnu Su’ud, pun bergerak meratakan kuburan -kuburan dan menghancurkan kubah-kubah kuburan yang dijadikan sebagai tempat pemujaan dan meminta kepada orang-orang mati penghuni kubur-kubur tersebut. Pasukan muwahhiddin juga mencopoti, memutus, dan membakar jimat-jimat baik berupa untaian kalung, sabuk, kain, buntalan kantung dan sejenisnya. Gerakan dakwah dan jihad ini dilanjutkan oleh Emir Abdul Aziz bin Muhammad, Emir Saud bin Abdul Aziz, Emir Turki bin Abdullah, dst. Tak pelak tindakan pasukan tauhid ini menggelorakan amarah dan dengki dari mereka yang selama ini melakukan perbuatan yang mengotori kemurnian tauhid, seperti beribadah kepada kuburan, beristighosah dan meminta kepada selain Allah  yakni kepada penghuni kubur, yang semua itu telah membuat kubur-kubur menjadi lebih ramai dan lebih makmur dibandingkan masjid-masjid. Berbagai fitnah dan celaan dengan cepat menyambar gerakan dakwah tauhid yang digelorakan oleh Muhammad bin Abdul Wahhab. Para pencela pun menjuluki gerakan dakwah tauhid ini sebagai gerakan Wahhabi. Tak hanya itu stigma keras dan kaku pun dilekatkan pada gerakan dakwah ini. Mereka tidak tahu atau memang pura-pura tidak tahu bahwa pengerahan pasukan untuk meratakan kuburan dan menghancurkan kubah-kubah kuburan ini telah didahului sebelumnya oleh dakwah dan surat-menyurat. Bahkan lebih parah lagi adalah tuduhan bahwa Muhammad bin Abdul Wahhab telah menggusur kuburan Nabi . “Wahhabi menggusur kuburan Nabi !!!,” kata mereka. “Wahhabi telah sesat, melarang orang berdoa dan tidak memuliakan orang sholeh!” tuduh mereka lagi. Lalu dapatkah dibenarkan tindakan kaum Wahhabi ini – sebagai penguasa Jazirah Arab saat itu – menugaskan pasukan guna meratakan dan menghancurkan kubah di kuburan? Apakah ajaran meratakan dan meng-hancurkan kubah-kubah di kuburan ini adalah ajaran baru nan sesat yang dikenalkan Muhammad bin Abdul Wahhab? Berdasarkan bukti historis, setidaknya ada beberapa “aktor intelektual” yang menjadi pencetus ajaran ini. Bahkan para “aktor intelektual” ini dengan jelas dan tanpa rasa segan memerintahkan langsung untuk meratakan kuburan dan menghancurkan bangunan-bangunan di atasnya. Merekalah nenek moyang Wahhabi yang menjadi “aktor intelektual” sesungguhnya di balik gerakan kaum Wahhabi ini. Maka berikut ini kami sebutkan beberapa di antara “aktor intelektual” itu yang harus kita “waspadai”.

Aktor Pertama: Muhammad bin Abdillah .

Bila kita urut ke belakang, tak diragukan lagi Muhammad bin Abdillah  adalah sang pelopor dan pencetus ajaran ini. Dia-lah yang mengajak dan memerintahkan pengikutnya untuk meratakan kuburan dan menghancurkan kubah-kubah di kuburan. Agar lebih yakin, maka kami nukilkan ucapan Muhammad  yang bisa kita dapati di Shahih Bukhari dan Shahih Muslim: عَنْ جَابِرٍ قَالَ : نَهَى رَسُوْل اللهِ  أَنْ يُجَصَّصَ الْقَبْرُ وَأَنْ يُقْعَدَ عَلَيْهِ وَأَنْ يُبْنَى عَلَيْهِ 1 Dari shahabat Jabir  ia berkata, “Rasulullah  melarang untuk mengapuri (menyemen) kuburan dan melarang duduk di atas kuburan serta melarang membangun di atas kuburan.” (HR Muslim no 970) Shahabat Fadhalah bin Ubaid  berkata: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُ بِتَسْوِيَتِهَا “Saya telah mendengar Rasulullah  memerintahkan untuk meratakannya (kuburan).” (HR. Muslim no. 968). Itulah bukti otentik yang tak bisa disangkal lagi bahwa Muhammad-lah  sang pelopor dan pencetus ajaran ini!!!

Aktor Kedua: Ali bin Abi Tholib .

Ali bin Abi Tholib , menjadi aktor kedua di balik gerakan meratakan kuburan dan menghancurkan kubah-kubah kuburan. Tak hanya itu, ia bahkan tanpa ragu-ragu, memerintahkan orang untuk meratakan kuburan!!! Imam Muslim mengabadikannya di kitab Shahih beliau, no.969: عَنْ أَبِي الْهَيَّاجِ الْأَسَدِي قَالَ : قَالَ لِي عَلِيُّ بْنُ أَبِي طَالِبٍ : أَلاَ أَبَعْثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُوْلُ اللهِ ؟ : أَنْ لاَ تَدَعَ تِمْثَالاً إِلاَّ طَمَسْتَهُ وَلاَ قَبْرًا مُشْرِفًا إِلاَّ سَوَّيْتَهُ Dari Abul Hayyaaj Al-Asadi berkata, “Ali bin Abi Tholib berkata kepadaku: “Maukah aku mengutus-mu di atas tugas yang Rasulullah mengutusku? Janganlah engkau biarkan sebuah patungpun kecuali kau hilangkan dan tidak sebuah kuburan yang tinggi kecuali engkau ratakan.”

Aktor Ketiga: Al-Imam Asy-Syafi’i.

Di dalam kitabnya Al-Umm, Imam Asy-Syafi’i menyatakan ketidaksukaannya terhadap kuburan yang dibangun lebih tinggi dari satu jengkal, beliau berkata: “Aku suka jika kuburan tidak ditambah dengan pasir dari selain (galian) kuburan itu sendiri. Tidak mengapa jika di tambah pasir dari selain (galian) kuburan namun jika di tambah tanah dari yang lain akan sangat tinggi. Tetapi aku suka jika kuburan dinaikkan di atas tanah seukuran se- jengkal atau yang semisalnya. Aku suka jika kuburan tidak dibangun dan tidak dikapur (disemen) karena hal itu menyerupai perhiasan dan kesombongan, dan kematian bukanlah tempat salah satu dari keduanya (hiasan dan kesombongan), dan aku tidak melihat kuburan kaum muhajirin dan kaum anshar dikapuri” [Al-Umm 2/631, tahqiq DR Rif’at Fauzi Abdul Mutholib, Daar Al-Wafa]. Perkataan Al-Imam Asy-Syafi’i ini jelas menyumbang pengaruh besar pada pengikutnya di dalam perkara ini.

Aktor Keempat: Para penguasa Makkah dan para ulama fiqh di masa Imam Asy-Syafi’i t.

Tampaknya Al-Imam Asy-Syafi’i tidak hanya menunjukkan ketidaksukaannya terhadap kuburan yang dibangun, beliau bahkan benar-benar menyetujui perbuatan para penguasa Makkah yang menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan (Al-Umm, 1/277): Berkata Al-Imam Asy-Syafi’i t: “Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahwa Rasulullah  telah melarang kuburan dibangun atau ditembok. Saya sendiri melihat sebagian penguasa di Makkah MENGHANCUR-KAN SEMUA BANGUNAN DI ATASNYA (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut.” Sepertinya, Muhammad bin Abdul Wahhab dan kaum Wahhabi ini mengekor jejak para penguasa Makkah di zaman Imam Asy-Syafi’i untuk menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan!!!

Aktor Kelima: Imam Az-Zarkasyi Asy-Syafi’i t

Az-Zarkasyi berkata dalam kitabnya Al-Khoodim: “Akan tetapi ta’lil yang disebutkan disini (*yaitu membangun kuburan para nabi dan solihin) karena untuk menghidupkan ziaroh menunjukkan bolehnya ‘imaaroh kuburan secara mutlak. Dan An-Nawawi diam (*tidak berkomentar) mengikuti asal kitab tanpa menjelaskan apa yang dimaksud dengan kata ‘imaaroh?. Jika yang dimaksud dengan ‘imaaroh adalah membangun kuburan dengan peralatan dan membangun (*bangunan) di atas kuburan maka hal ini TIDAK DIPERBOLEHKAN, demikian juga jika ia berwasiat untuk membangun kubah dan maksudnya adalah untuk mengagungkan kuburan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang jahiliyah.” “Jika yang dimaksud dengan ‘imaaroh kuburan adalah mengembalikan tanah galiannya ke kuburan dan melazimi kuburan karena khawatir timbulnya rasa keterasingan dan sebagai pemberitahuan bagi orang-orang yang menziarahinya agar tidak hilang kuburan tersebut maka maknanya dekat (*pada kebenaran).”

Aktor Keenam: Imam An-Nawawi t.

Imam An-Nawawi t juga termasuk aktor intelektual ajaran ini, sebagaimana terlihat ketika mengomentari riwayat Ali bin Abi Tholib  di atas, ia berkata : فيه أن السنة أن القبر لا يرفع على الأرض رفعاً كثيراً ولا يسنم بل يرفع نحو شبر ويسطح وهذا مذهب الشافعي ومن وافقه، “Pada hadits tersebut terdapat keterangan bahwa yang disyariatkan kubur tidak terlalu ditinggikan di atas permukaan tanah dan tidak dibentuk seperti punuk onta, akan tetapi hanya ditinggikan seukuran sejengkal dan MERATAKANNYA. Ini adalah madzhab Asy-Syafi’i dan orang-orang yang sepakat dengan beliau” [Syarh An-Nawawi ‘alaa Shahih Muslim, 3/36]. Beliau juga berkata: وَاتَّفَقَتْ نُصُوصُ الشَّافِعِيِّ وَالْأَصْحَابِ عَلَى كَرَاهَةِ بِنَاءِ مَسْجِدٍ عَلَى الْقَبْرِ سَوَاءٌ كَانَ الْمَيِّتُ مَشْهُورًا بِالصَّلَاحِ أَوْ غَيْرِهِ لِعُمُومِ الْأَحَادِيثِ “Nash-nash dari Asy-Syafi’i dan para shahabatnya telah sepakat tentang dibencinya membangun masjid di atas kubur. Sama saja, apakah si mayit masyhur dengan keshalihannya ataupun tidak berdasarkan keumuman hadits-haditsnya” [Al-Majmuu’, 5/316].

Aktor Ketujuh: Imam Ibnu Hajr Al-Haitami t.

Al-Imam Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafi’i t di kitab beliau Al-Fataawaa al-Fiqhiyah al-Kubroo 2/17 berkata: الْمَنْقُولُ الْمُعْتَمَدُ كما جَزَمَ بِهِ النَّوَوِيُّ في شَرْحِ الْمُهَذَّبِ حُرْمَةُ الْبِنَاءِ في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ فَإِنْ بُنِيَ فيها هُدِمَ وَلَا فَرْقَ في ذلك بين قُبُورِ الصَّالِحِينَ وَالْعُلَمَاءِ وَغَيْرِهِمْ … “Pendapat yang umum dinukil yg menjadi patokan -sebagaimana yang ditegaskan (*dipastikan) oleh An-Nawawi dalam (*Al-Majmuu’) Syarh Al-Muhadzdzab- adalah diharamkannya membangun di kuburan yang musabbalah , maka JIKA DIBANGUN DI ATAS PEKUBURAN TERSEBUT MAKA DIHANCURKAN, dan tidak ada perbedaan dalam hal ini antara kuburan sholihin dan para ulama dengan kuburan selain mereka.” Setelah menyimpulkan pernyataan Al-Imam An-Nawawi tersebut, Al-Imam Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafi’i t – yang tampaknya sependapat- kemudian melanjutkan: وما في الْخَادِمِ مِمَّا يُخَالِفُ ذلك ضَعِيفٌ لَا يُلْتَفَتُ إلَيْهِ وَكَمْ أَنْكَرَ الْعُلَمَاءُ على بَانِي قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ  وَغَيْرِهَا وَكَفَى بِتَصْرِيحِهِمْ في كُتُبِهِمْ إنْكَارًا وَالْمُرَادُ بِالْمُسَبَّلَةِ كما قَالَهُ الْإِسْنَوِيُّ وَغَيْرُهُ التي اعْتَادَ أَهْلُ الْبَلَدِ الدَّفْنَ فيها أَمَّا الْمَوْقُوفَةُ وَالْمَمْلُوكَةُ بِغَيْرِ إذْنِ مَالِكِهَا فَيَحْرُمُ الْبِنَاءُ فِيهِمَا مُطْلَقًا قَطْعًا إذَا تَقَرَّرَ ذلك فَالْمَقْبَرَةُ التي ذَكَرَهَا السَّائِلُ يَحْرُمُ الْبِنَاءُ فيها وَيُهْدَمُ ما بُنِيَ فيها وَإِنْ كان على صَالِحٍ أو عَالِمٍ فَاعْتَمِدْ ذلك وَلَا تَغْتَرَّ بِمَا يُخَالِفُهُ “Dan pendapat yang terdapat di Al-Khoodim yang menyelisihi hal ini maka lemah dan tidak dipandang. Betapa sering para ulama mengingkari para pembangun kubah (*di kuburan) Imam Asy-Syafi’i  dan kubah-kubah yang lain. Dan cukuplah penegasan para ulama (*tentang dibencinya membangun di atas kuburan) dalam buku-buku mereka sebagai bentuk pengingkaran.” “Dan yang dimaksud dengan musabbalah –sebagai- mana yang dikatakan Al-Isnawiy dan yang ulama yang lain- yaitu lokasi yang biasanya penduduk negeri ada pekuburan. Adapun pekuburan wakaf dan pekuburan pribadi tanpa izin pemiliknya maka diharamkan membangun di atas dua pekuburan tersebut secara mutlaq. Jika telah jelas hal ini maka pekuburan yang disebutkan oleh penanya maka diharamkan membangun di situ dan HARUS DIHANCURKAN APA YANG TELAH DIBANGUN, meskipun di atas (*kuburan) orang sholeh atau ulama. Jadikanlah pendapat ini sebagai patokan dan jangan terpedaya dengan pendapat yang menyelisihinya.” [Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubro 2/17] Tak cukup hanya itu, Al-Imam Ibnu Hajr Al-Haitami Asy-Syafi’i t bahkan “menghasut” pemerintah dan penguasa untuk turut berpartisipasi menghancurkan bangunan-bangunan di atas kuburan: وَوَجَبَ على وُلَاةِ الْأَمْرِ هَدْمُ الْأَبْنِيَةِ التي في الْمَقَابِرِ الْمُسَبَّلَةِ وَلَقَدْ أَفْتَى جَمَاعَةٌ من عُظَمَاءِ الشَّافِعِيَّةِ بِهَدْمِ قُبَّةِ الْإِمَامِ الشَّافِعِيِّ  وَإِنْ صُرِفَ عليها أُلُوفٌ من الدَّنَانِيرِ لِكَوْنِهَا في الْمَقْبَرَةِ الْمُسَبَّلَةِ وَهَذَا أَعْنِي الْبِنَاءَ في الْمَقَابِرِ الْمُسَبَّلَةِ مِمَّا عَمَّ وَطَمَّ ولم يَتَوَقَّهُ كَبِيرٌ وَلَا صَغِيرٌ فَإِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إلَيْهِ رَاجِعُونَ “Dan wajib atas para penguasa untuk MENG-HANCURKAN bangunan-bangunan yang terdapat di pekuburan umum. Sekelompok ulama besar madzhab Syafi’i telah berfatwa untuk menghancurkan kubah (di kuburan) Imam As-Syafi’i , meskipun telah dikeluarkan biaya ribuan dinar (utk membangun kubah itu) karena kubah tersebut ada di pekuburan umum. Dan perkara ini –maksudku yaitu membangun di pekuburan umum- merupakan perkara yang telah merajalela dan tidak meng hindar darinya baik orang besar maupun orang kecil.” [Al-Fataawa al-Fiqhiyah al-Kubroo 2/25].

Aktor Kedelapan: Al-Imam Abu Hanifah t

Inilah Al-Imam Abu Hanifah, salah satu dari empat imam madzhab. Beliau ternyata juga menjadi aktor intelektual di balik ajaran meratakan dan menghancurkan kubah kuburan. Ulama masyhur bermadzhab Hanafiyyah, Muhammad bin Al-Hasan t berkata : أَخْبَرَنَا أَبُو حَنِيفَةَ، قَالَ: حَدَّثَنَا شَيْخٌ لَنَا يَرْفَعُ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ نَهَى عَنْ تَرْبِيعِ الْقُبُورِ، وَتَجْصِيصِهَا “. قَالَ مُحَمَّدٌ: وَبِهِ نَأْخُذُ، وَهُوَ قَوْلُ أَبِي حَنِيفَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ Telah mengkabarkan kepada kami Abu Haniifah, ia berkata : Telah menceritakan kepada kami seorang syaikh kami yang memarfu’kan riwayat sampai pada Nabi  bahwa beliau  melarang untuk membangun dan mengapur/menyemen kubur. Muhammad (bin Al-Hasan) berkata: Dengannya kami berpendapat, dan ini juga merupakan pendapat Abu Hanifah” [Al-Aatsaar no. 257]. Aktor Kesembilan: Ibnu Abidin Al-Hanafi t Ibnu Abidin Al-Hanafi t berkata: وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ فَلَمْ أَرَ مَنْ اخْتَارَ جَوَازَهُ…. وَعَنْ أَبِي حَنِيفَةَ : يُكْرَهُ أَنْ يَبْنِيَ عَلَيْهِ بِنَاءً مِنْ بَيْتٍ أَوْ قُبَّةٍ أَوْ نَحْوِ ذَلِكَ “Adapun membangun di atas kubur, maka aku tidak melihat ada ulama yang memilih pendapat memboleh-kannya…Dan dari Abu Haniifah: Dibenci membangun bangunan di atas kubur, baik berupa rumah, kubah, atau yang lainnya” [Raddul-Mukhtaar, 6/380 – via Syamilah].

Aktor Kesepuluh: Al-Imam Malik bin Anas t

Al-Imam Malik bin Anas t berkata: أَكْرَهُ تَجْصِيصَ الْقُبُورِ وَالْبِنَاءَ عَلَيْهَا “Aku membenci mengapur/menyemen kubur dan bangunan yang ada di atasnya” [Al-Mudawwanah, 1/189].

Aktor Kesebelas: Al-Imam Al-Qurthubi t Al-Qurthubiy t berkata: فاتخاذ المساجد على القبور والصلاة فيها والبناء عليها، إلى غير ذلك مما تضمنته السنة من النهي عنه ممنوع لا يجوز “Membangun masjid-masjid di atas kubur, shalat di atasnya, membangun bangunan di atasnya, dan yang lainnya termasuk larangan dari sunnah, tidak diperbolehkan” [Tafsir Al-Qurthubiy, 10-379].

Aktor Keduabelas: Al-Imam Ibnu Qudamah t

Dari madzhab Hanabilah, Ibnu Qudaamah t berkata: ويكره البناء على القبر وتجصيصه والكتابة عليه لما روى مسلم في صحيحه قال : [ نهى رسول الله صلى الله عليه و سلم أن يجصص القبر وأن يبنى عليه وأن يقعد عليه ] – زاد الترمذي – [ وأن يكتب عليه ] وقال : هذا حديث حسن صحيح ولأن ذلك من زينة الدنيا فلا حاجة بالميت إليه “Dan dibenci bangunan yang ada di atas kubur, mengkapurnya (menembok), dan menulis tulisan di atasnya, berdasarkan riwayat Muslim dalam Shahiih-nya: ‘Rasulullah  telah melarang kubur untuk dikapur (ditembok), diduduki, dan dibangun sesuatu di atasnya’. At-Tirmidziy menambahkan: ‘Dan menulis di atasnya’, dan ia berkata: ‘Hadits hasan shahih’. Karena itu semua merupakan perhiasan dunia yang tidak diperlukan oleh si mayit” [Al-Mughni, 2/382].

Aktor Ketigabelas: Al-Imam Al-Bahuutiy t.

Al-Imam Al-Bahuutiy Al-Hanbaliy t berkata: ويحرم اتخاذ المسجد عليها أي: القبور وبينها لحديث أبي هريرة أن النبي  قال: لعن الله اليهود اتخذوا قبور أنبيائهم مساجد. متفق عليه “Dan diharamkan menjadikan masjid di atas kubur, dan membangunnya berdasarkan hadits Abu Hurairah bahwa Nabi  bersabda: ‘Allah melaknat orang Yahudi yang telah menjadikan kubur para nabi mereka sebagai masjid-masjid’. Muttafaqun ‘alaih” [Kasysyaaful-Qinaa’, 3/774]. Aktor

Keempatbelas: Imam Al-Mardawiy t.

Juga Al-Mardawiy Al-Hanbaliy t yang berkata: وَأَمَّا الْبِنَاءُ عَلَيْهِ : فَمَكْرُوهٌ ، عَلَى الصَّحِيحِ مِنْ الْمَذْهَبِ ، سَوَاءٌ لَاصَقَ الْبِنَاءُ الْأَرْضَ أَمْ لَا ، وَعَلَيْهِ أَكْثَرُ الْأَصْحَابِ قَالَ فِي الْفُرُوعِ : أَطْلَقَهُ أَحْمَدُ ، وَالْأَصْحَابُ “Adapun bangunan di atas kubur, hukumnya dibenci ber- dasarkan pendapat yang shahih dari madzhab (Hanabilah), sama saja, apakah bangunan menempel tanah atau tidak. Pendapat itulah yang dipegang kebanyakan sahabat Ahmad. Di kitab Al-Furuu’ dinyatakan: Ahmad dan para sahabatnya memutlakkannya” [Al-Inshaaf, 2/549].

Aktor Kelimabelas: Ibnu Hazm t.

Dari madzhab dzhaahiriyyah, Ibnu Hazm t berkata: مَسْأَلَةٌ: وَلاَ يَحِلُّ أَنْ يُبْنَى الْقَبْرُ, وَلاَ أَنْ يُجَصَّصَ, وَلاَ أَنْ يُزَادَ عَلَى تُرَابِهِ شَيْءٌ, وَيُهْدَمُ كُلُّ ذَلِكَ “Permasalahan: Dan tidak dihalalkan kubur untuk dibangun, dikapur/disemen, dan ditambahi sesuatu selain dari tanah bekas galiannya. Semua tambahan itu harus dirobohkan (diratakan).” [Al-Muhallaa, 5/133].

Aktor Keenambelas: Ibnu Katsir t.

Imam Ibnu Katsir di kitab beliau Bidayah wan Nihayah (10/262) menceritakan keadaan masyarakat Mesir di masa beliau yang bersikap berlebih-lebihan terhadap wanita shalihah Nafisah al-Quraisiyyah Al-Hasyimiyyah (w 208 H), sehingga kuburannya diagungkan dan dijadikan tempat ritual ibadah dan perayaan. Ibnu Katsir t menuturkan: والذي ينبغي أن يعتقد فيها ما يليق بمثلها من النساء الصالحات، وأصل عبادة الأصنام من المغالاة في القبور وأصحابها، وقد أمر النبي صلى الله عليه وسلم بتسويه القبور وطمسها، والمغالاة في البشر حرام‏.‏ “Dan yang pantas untuk diyakini atasnya (Nafisah) adalah sekedar apa yang sesuai dengan kedudukan para wanita shalihah. Dan adapun asal muasal penyembahan patung berhala adalah dari sikap berlebih-lebihan (ghuluw) terhadap kuburan dan penghuninya; dan Nabi sungguh telah memerintahkan untuk MERATAKAN KUBURAN DAN MENGHAPUSNYA, dan sikap berlebih-lebihan terhadap manusia adalah haram. “ Tentunya masih banyak lagi tokoh yang menjadi aktor intelektual di dalam perkara ini. Namun kiranya cukuplah kami paparkan tokoh-tokoh di atas saja guna membongkar asal-muasal ajaran Wahhabi yang tingkah polahnya menganjurkan untuk meratakan kuburan-kuburan dan menghancurkan kubah-kubah kuburan. Maka setelah ini kami bertanya kepada para pencela yang senang melontarkan cap “Wahhabi”: Tepatkah bila dikatakan ajaran melarang meninggikan dan membuat bangunan di kuburan adalah buatan orang-orang Wahhabi? Atau, kenapa tidak sekalian saja kalian katakan: Muhammad  itu Wahhabi, Imam Asy-Syafii itu Wahhabi, Imam An-Nawawi itu Wahhabi, Imam Ibnu Hajr itu Wahhabi juga??!!! Bukankah mereka menganjurkan dan melakukan juga apa yang dilakukan kaum Wahhabi? Wahai para pencela! Tidakkah kalian perhatikan perkara yang kalian cela itu? Tidakkah kalian berpikir sebelum memfitnah dan menuduh? Wahai para pencela jika memang kalian sudah tahu bahwa meratakan kuburan-kuburan dan menghancurkan kubah-kubah kuburan adalah memang disyariatkan, lalu kenapa kalian masih mencela??

Kenapa Mereka Meratakan Kuburan?

Para ulama telah membahas tentang sebab-sebab kenapa Nabi  memerintahkan untuk meratakan kubur dan melarang meninggikan kubur Di antara sebabnya adalah :

Pertama: Agar tidak bertasyabbuh (meniru-niru) kaum musyrikin dalam rangka tata cara beribadah, dan

Kedua: Karena peribadatan kepada Allah di kuburan orang sholeh merupakan sarana yang dikhawatirkan bisa mengantarkan pelaku ibadah kepada pengagungan terhadap kuburan dan penghuni kuburan yang akhirnya akan menyimpangkan ibadah kepada selain Allah yakni tertuju kepada sang penghuni kubur. Marilah cermati hadits berikut ini: عَن ابْن عَباس قالَ:«لعَنَ رَسُوْلُ اللهِ  زُوّارَاتِ القبوْرِ، وَالمتَّخِذِينَ عَليْهَا المسَاجِدَ وَالسُّرُج» Dari Ibnu Abbas berkata: “Rasulullah  melaknat para wanita yang meziarahi kuburan dan orang-orang yang menjadikan di atas kuburan-kuburan masjid-masjid dan lampu-lampu.” (HR Ahmad no 2030, Abu dawud no 3236, At-Tirmidzi no 320, An-Nasaai no 2034, Ibnu Maajah no 1575, Ibnu Hibban dalam Shahihnya no 3179 dan 3180). Dalam hadits ini Nabi juga melaknat orang yang membuat penerangan di atas kuburan. Tentunya ‘illah (sebab) larangan tidak lain adalah karena hal itu merupakan sarana yang mengantarkan pada peng-agungan penghuni kubur. Dan Nabi menggandengkan laknatnya pada orang-orang yang menjadikan kuburan sebagai masjid dengan laknat beliau kepada orang-orang yang menjadikan lampu di kuburan. Hal ini menunjukan bahwa sebab larangan kedua perkara tersebut adalah sama, yaitu sama-sama merupakan sarana yang mengantarkan pada pengagungan penghuni kubur. Dan pengagungan terhadap penghuni kubur mengantarkan kepada kesyirikan sehingga menjadikan penghuni kubur sebagai tempat meminta dan beristighotsah. Oleh karena itu pula para shahabat Nabi  tidak me- nampakkan atau mengeluarkan kuburan Nabi  dari rumah Aisyah karena dikhawatirkan terjadi pengagungan atas kuburan beliau dan menjadi tempat pemujaan seperti yang terjadi pada kaum Yahudi dan Nasrani. Aisyah d menjelaskan tentang hal ini, sebagai berikut: عن عائشة رضي الله عنها عن النبي  قَالَ فِي مَرَضِهِ الَّذِي مَاتَ فِيْهِ : لَعَنَ اللهُ الْيَهُوْدَ وَالنَّصَارَى اتَّخَذُوْا قُبُوْرَ أَنْبِيَائِهِمْ مَسْجِدًا. قَالَتْ وَلَوْلاَ ذَلِكَ لَأَبْرَزُوْا قَبْرَهُ غَيْرَ أَنِّي أَخْشَى أَنْ يُتَّخَذَ مَسْجِدًا Dari Aisyah d bahwa tatkala Rasulullah  sakit yang di mana beliau meninggal pada sakit tersebut maka beliau  bersabda: “Allah melaknat orang-orang Yahudi dan Nasrani, karena mereka telah menjadikan kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”. Aisyah berkata: “Kalau bukan karena hal ini tentu mereka (para sahabat) akan mengeluarkan kuburan Nabi (dari rumah Aisyah-pen) hanya saja aku khawatir kuburan Nabi dijadikan masjid.” (HR Al-Bukhari no. 1130 dan Muslim no 529). Setelah menukil perkataan Al-Baidhowiy, Imam As-Shon’aani (pengarang Subulus Salam) berkata: “Aku katakan: Perkataan Al-Baidhoowi: “Bukan untuk mengagungkannya”, maka jawabannya : (1) Membangun masjid-masjid di dekatnya dan sengaja bertabaruuk (mencari barokah) dengannya merupakan (bentuk) pengagungan kepadanya. (2) Hadits-hadits yang melarang datang secara mutlak, tidak ada dalil yang menunjukkan ta’lil (sebab larang-an) sebagaimana yang disebutkan Al-Baidhoowi. (3) Tampaknya ‘illahnya (sebab pelarangannya) adalah: • sadd adz-dzarii’ah (*menutup pintu yang mengantarkan pada kesyirikan). • dan juga menjauh dari bertasyabbuh (menyerupai) para penyembah berhala yang mereka mengagung- kan benda-benda mati yang tidak mendengar dan tidak memberi manfaat atau bahaya. • dan juga mengeluarkan biaya harta untuk hal ini termasuk perkara sia-sia dan mubadzir yang sama sekali kosong dari manfaat, • dan hal ini juga menyebabkan pemasangan lentera di atas kuburan yang pelakunya dilaknat, Serta kerusakan-kerusakan yang tidak terhingga yang timbul akibat membangun di atas kuburan berupa masyaahid (situs ziarah) dan kubah-kubah di atas kuburan.” [Subulus Salaam Syarh Buluughil Maroom, Daar Al-Ma’aarif, cetakan pertama, juz 1 hal 445].

Proses Terjadinya Pengagungan Kuburan

Bagaimanakah proses pengagungan yang berujung pada pemujaan dengan meminta kepada penghuni kubur ini terjadi? Al-Imam Asy-Syaukaaniy t, penulis Nailul Authar, menjelaskan: “Tidak diragukan lagi bahwasanya sebab terbesar yang menumbuhkan keyakinan seperti ini terhadap para mayat (*yaitu para mayat bisa memberi manfaat dan menolak mudhorot) adalah apa yang dihiaskan syaitan kepada manusia tentang meninggikan kuburan, meletakkan kain-kain (kelambu) di atasnya, mengapurinya (menemboknya), membaguskan dan menghiasinya dengan seindah-indahnya.” “Sesungguhnya seorang yang jahil (bodoh dan awam) jika melihat sebuah kuburan dari kuburan-kuburan yang dibangun kubah di atasnya lalu ia melihatnya dan melihat bahwa di atas kuburan ada kain-kain yang indah, lampu-lampu yang menyala-nyala, dan di sekitarnya tersebar harum semerbaknya wewangian, maka tidak diragukan lagi bahwasanya hatinya akan dipenuhi dengan pengagungan terhadap kuburan tersebut, dan pikirannya sempit untuk bisa memiliki gambaran tentang manzilah (kedudukan tinggi) sang mayat. Dan syaitan akan menanamkan untaian keyakinan-keyakinan yang rusak ke dalam hatinya berupa rasa takut dan haibah (kharismatik sang mayat) rasa merinding dan kharismatik sang mayat yang ini semua termasuk tipuan syaitan yang sangat besar kepada kaum muslimin, dan merupakan sarana terkuat untuk menyesatkan hamba sehingga mengoncangkannya dari Islam sedikit demi sedikit, hingga akhirnya ia meminta kepada penghuni kubur tersebut sesuatu yang tidak ada yang mampu melakukannya kecuali Allah, maka jadilah ia termasuk dalam barisan kaum musyrikin.” “Dan bisa jadi kesyirikan ini menimpanya tatkala pertama kali melihat kuburan tersebut yang dalam kondisi demikian. Dan tatkala pertama kali ia menziarahi kuburan tersebut maka pasti terpetik di benaknya bahwa perhatian yang begitu besar dari orang-orang yang hidup terhadap mayat yang seperti ini tidak mungkin dilakukan kecuali karena ada faedah/manfaat yang mereka harapkan dari mayat ini, manfaat dunia maupun manfaat akhirat. Akhirnya iapun merasa kecil di hadapan orang yang dilihatnya dari kalangan ulama yang menziarahi kuburan tersebut dalam kondisi berdiam di kuburan tersebut dan mengusap-ngusap kuburan tersebut.” (Syarh As-Suduur bi Tahriim Rof’i al-Qubuur hal 17-18).

Nasihat Imam Asy-Syafi’i dan Imam An-Nawawi Terkait Pengagungan Kuburan

Al-Imam Asy-Syiroozi t menukil penjelasan Al-Imam Asy-Syafi’i t terkait perkara pengagungan kuburan. Beliau berkata: “Dan Nabi  berkata, “Janganlah kalian menjadikan kuburanku sebagai berhala (sesembahan), karena sesungguhnya Bani Israil telah binasa karena mereka menjadi kuburan-kuburan nabi-nabi mereka sebagai masjid”. Asy-Syafi’i berkata, “Dan aku benci diagungkannya seorang makhluk hingga kuburannya dijadikan masjid, khawatir fitnah atasnya dan atas orang-orang setelahnya.” (Al-Muhadzdzab 1/456, dengan tahqiq DR Muhammad Az-Zuhaili). Lebih dalam lagi, Al-Imam An-Nawawi Asy-Syafi’i t menjelaskan tentang pengagungan kuburan yang marak terjadi di negeri-negeri muslim ini: “Dan telah sepakat teks-teks dari As-Syafi’i dan juga Ashhaab (para ulama besar madzhab Syafi’iyah) akan DIBENCINYA MEMBANGUN MASJID DI ATAS KUBURAN, sama saja apakah sang mayat masyhur dengan kesholehan atau tidak karena keumuman hadits-hadits (yang melarang). Asy-Syafii dan para Ash-haab berkata, “Dan dibenci sholat ke arah kuburan, sama saja apakah sang mayat orang sholeh ataukah tidak.” Al-Haafizh Abu Muusa berkata, “Telah berkata Al-Imaam Abul Hasan Az-Za’farooni t: “Dan tidak boleh sholat ke arah kuburannya, baik untuk mencari barokah atau karena pengagungan, karena hadits-hadits Nabi, wallahu A’lam.” [Al-Majmuu’ Syarh Al-Muhadzdzab 5/289]. Imam An-Nawawi juga telah menukil kesepakatan para ulama tentang dilarangnya mengusap kuburan Nabi  dalam rangka mencari barokah. Beliau t berkata: “Tidak boleh thowaf di kuburan Nabi , dan dibenci menempelkan perut dan punggung di dinding kuburan, hal ini telah dikatakan oleh Al-Halimy dan yang selainnya. Dan dibenci mengusap kuburan dengan tangan dan dibenci mencium kuburan. Bahkan adab (*ziarah kuburan Nabi) adalah ia menjauh dari Nabi sebagaimana ia menjauh dari Nabi kalau dia bertemu dengan Nabi  tatkala masih hidup. Dan inilah yang benar, dan inilah perkataan para ulama, dan mereka telah sepakat akan hal ini.” “Dan hendaknya jangan terpedaya oleh banyaknya orang awam yang menyelisihi hal ini, karena teladan dan amalan itu dengan perkataan para ulama. Jangan berpaling pada perbuatan-perbuatan baru yang dilakukan oleh orang-orang awam dan kebodohan-kebodohan mereka. Sungguh yang mulia Abu Ali al-Fudhail bin ‘Iyadh telah berbuat baik dalam perkataannya: “Ikutilah jalan petunjuk dan tidak masalah jika jumlah pengikutnya yang sedikit. Berhati-hatilah akan jalan kesesatan dan jangan terpedaya oleh banyaknya orang yang binasa. Barangsiapa yang terbetik di benaknya bahwa mengusap kuburan dengan tangan dan perbuatan yang semisalnya lebih berkah, maka ini karena kebodohan dan kelalaiannya, karena keberkahan itu ada pada sikap mengikuti syari’at dan perkataan para ulama. Bagaimana mungkin keutamaan bisa diraih dengan menyelisihi kebenaran?”

Penutup

Sungguh, kuburan Nabi  dan kedua sahabatnya masih ada di tempatnya hingga saat ini bahkan diberi pengamanan khusus agar tidak terjadi pencurian ataupun penggusuran. Hal yang bertolak belakang dari apa yang dilontarkan oleh para pencela dan penuduh. Untuk para pencela yang gemar menyematkan gelar “Wahhabi”, kami bertanya penyematan itu dimaksudkan sebagai pujian atau celaan? Jika pujian maka tidak mungkin, sebab penyematan “Wahhabi” ini melekat pada diri Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang senantiasa dicela dan disesat-sesatkan. Itulah yang dilakukan oleh kalangan pemuja dan pengkeramat kuburan semisal as-Sayyid Ahmad Zaini Dahlan dan pengikutnya. Baiklah, jika begitu kata “Wahhabi” digunakan untuk mencela?! Maka kami bertanya kepada kalian: (1) Bukankah kata “Wahhabi” itu dinisbatkan (disandarkan) kepada Al-Wahhab -Allah Yang Maha Memberi, Menganugerahi-? Seperti Rahmani nisbat kepada Ar-Rahman, Rabbani nisbat kepada al-Rabb, Ilahi nisbat kepada Al-Ilah? Maka Bolehkah kata yang mulia ini: Rahmani, Rabbani, Ilahi dan Wahhabi dipakai untuk gelar cacian dan celaan, atau untuk menjadi julukan bagi kelompok sesat? Kalau tidak boleh, kenapa dilestarikan?! (2) Kalau madzhab yang dinisbatkan kepada nama para imam saja (seperti madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dll) mendapatkan tempat terpuji dan digunakan untuk makna positif, lalu kenapa madzhab yang dinisbatkan kepada Al-Wahhab (Wahhabi, yakni kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala) atau nisbat kepada Nabi Muhammad (Muhammadi) justru ditolak dan dicela serta digunakan untuk makna negatif? Apakah kita umat Islam ridha terhadap istilah yang rancu ini? (3) Jika yang kalian anggap sesat itu Muhammad putra Syaikh Abdul Wahhab, lalu kenapa Allah (al-Wahhab) yang dicela? Jika istilah “Wahhabi” digunakan untuk menghujat Syaikh Muhammad maka larinya justru kepada Allah dan kepada ayahnya, sementara beliau selamat dari celaan itu. Maka apakah kalian mencela Allah al-Wahhab atau ayah Syaikh Muhammad yang bernama Abdul Wahhab? (4) Jika kenyataannya rancu seperti ini, lalu siapa yang pertama kali membuat istilah celaan itu? Apakah ahli ilmu ahlussunnah? Atau musuh sunnah ataukah orang jahil? Wahai para pencela dakwah tauhid, perhatikanlah lisan kalian! Alangkah mengerikannya kesudahan diri-diri kalian bila saja mau merenungkan ayat ini: وَالَّذِينَ يُؤْذُونَ الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِ مَا اكْتَسَبُوا فَقَدِ احْتَمَلُوا بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا “Dan orang-orang yang menyakiti orang-orang yang mukmin dan mukminat tanpa kesalahan yang mereka perbuat, maka sesungguhnya mereka telah memikul kebohongan dan dosa yang nyata.” [Al Ahzab: 58]. وَمَن يَكْسِبْ خَطِيئَةً أَوْ إِثْمًا ثُمَّ يَرْمِ بِهِ بَرِيئًا فَقَدِ احْتَمَلَ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُّبِينًا “Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, maka sesungguhnya ia telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.” [An-Nisa:112]. وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنِ اتَّبَعَ هَوَاهُ بِغَيْرِ هُدًى مِّنَ اللهِ “Dan siapakah yang lebih tersesat daripada orang yang men gikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah.” [Al-Qashas : 50] وَمَنْ أَضَلُّ مِمَّنْ يَدْعُو مِنْ دُونِ اللَّهِ مَنْ لا يَسْتَجِيبُ لَهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ وَهُمْ عَنْ دُعَائِهِمْ غَافِلُونَ (QS Al-Ahqoof : 5) “Dan siapakah yang lebih tersesat daripada orang yang berdoa kepada selain Allah yang tiada dapat memperkenankan (doa) nya sampai hari kiamat dan mereka lalai dari (memperhatikan) doa mereka? “ Inilah yang dapat kami paparkan sehingga menjadi jelas mana yang haq dan mana yang batil. Kami berharap pemaparan ini akan membuat kita lebih waspada dan berhati-hati di dalam bertindak dan memilih ajaran sehingga kita tidak mudah tersesat atau disesatkan oleh orang-orang bodoh yang kerjanya hanya mengekor dan menebarkan isu dan fitnah ke sana-kemari. 

ditulis oleh rekan kami BS. Kusuma, Ramadhan 1433H

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: