jump to navigation

Ada Yang Sama antara Islam dengan Yahudi & Nashrani? Desember 5, 2012

Posted by arifardiyansah in Nasihat Ulama.
Tags: , , , , , , , , ,
trackback

Sudah lama tidak posting, mudah-mudahan postingan kali ini bermanfaat.

 Sesungguhnya kita diperintahkan untuk senantiasa menyelisihi orang-orang kafir dalam segala syiar-syiar mereka. Rasulullah n bersabda,

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

“Barangsiapa menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk dari kaum tersebut” (HR. Abu Dawud, no. 4033)

Di antara orang-orang kafir yang kita dilarang adalah yahudi dan nashrani. Dalam setiap shalat kita senantiasa meminta agar dijauhkan dari keduanya. Doa tersebut tercakup dalam surat al-Fatihah, artinya, “Tunjukilahkami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat” (QS. al-Fatihah: 6-7)

Orang yang dimurkai maksudnya adalah yahudi sedangkan orang yang sesat adalah nashrani.

Sufyan bin Uyainah v berkata, “Sesungguhnya siapa yang rusak dari ulama kita itu menyerupai orang yahudi, dan siapa yang rusak dari hamba-hamba sahaya kita, maka mereka menyerupai kaum nashrani”

Demikianlah kita diperintahkan menyelisihi ahli kitab sebagaimana pula kita diperintahkan untuk tidak menyerupai kaum-kaum sebelum diutusnya Rasul n. Namun Rasulullah n mengisyaratkan bahwa kaum muslimin sedikit demi sedikit pasti akan ada yang mengikuti mereka. Isyarat ini terdapat dalam sabdanya n,

لَتَتْبَعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا شِبْرًا وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ تَبِعْتُمُوهُمْ قُلْنَا يَا رَسُولَ اللهِ الْيَهُودَُ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti (perlakuan) orang yang sebelum kalian, sejengkal sejengkal, dan sehasta demi sehasta, sehingga seandainya mereka masuk ke lubang biawak sekalipun tentu kalian tetap mengikuti mereka.” Kami bertanya, “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu Yahudi dan Nasrani?”. Beliau n bersabda, “Siapa (kalau bukan mereka)?” [HR. al-Bukhari 7320]

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِي بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ فَقَالَ وَمَنْ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

“Tidak akan terjadi kiamat sebelum umatku mengikuti jejak umat beberapa abad sebelumnya, sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta”. Ada orang yang bertanya, “Ya Rasulullah, mengikuti orang Persia dan Romawi?” Jawab Beliau, “Siapa lagi kalau bukan mereka?” (HR. al-Bukhari)

Allah k telah menguji umat Islam dengan banyaknya perkara yang di dalamnya mengandung tasyabuh dengan non muslim. Oleh karena itu, agar kita tidak terjebak arus sebagian orang yang latah dan senang mengikuti kebiasaan orang-orang non Islam, berikut kami paparkan beberapa contoh perayaan dan pesta keagamaan yang mengandung unsur tasyabuh (menyerupai) orang-orang non muslim,

Perayaan hari lahir Rasulullah n.

Sungguh banyak orang yang mendengung-dengungkan bahwa merayakan kelahiran Nabi n merupakan bentuk cinta dan pengagungan kepada Nabi n. kita semua tentu mengetahui bahwa mencintai Nabi menjadi keharusan bagi setiap muslim. Rasulullah n bersabda,

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ

“Salah seorang di antara kalian tidak akan beriman sampai aku lebih dia cintai dari anaknya, orang tuanya bahkan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Namun kecintaan kepada Nabi n memerlukan bukti nyata tidak hanya diucapkan lisan saja. Bukti dari kecintaan kita kepada Nabi n adalah dengan mengikuti (ittiba’) setiap ajarannya dan mentaatinya. Dari sini bisa kita katakan siapa saja yang enggan mentaatinya dan melakukan suatu ibadah yang tidak ada ajarannya dan perintah dari Rasul n maka ini tidaklah dikatakan sebagai cinta Nabi n. Rasul n bersabda,

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللهَ وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللهَ

“Barangsiapa yang menaatiku, maka dia telah menaati Allah dan barangsiapa yang tidak taat kepadaku, maka dia tidak taat kepada Allah.” (Muttafaq alaih)

Dan Rasulullah n bersabda,

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa yang beramal tanpa ada perintah dari kami, maka dia tertolak” (Muttafaq alaih)

Berdasarkan hadits di atas menunjukkan siapa saja yang melakukan suatu ajaran yang tidak ada tuntunan dan ajaran dari Nabinya dan membuat-buat ajaran baru yang tidak ada asal usulnya dari beliau n, meskipun dilakukan dengan penuh keikhlasan karena Allah l, maka pengakuan cinta Nabi pada dirinya dipertanyakan.

Oleh karena itu perayaan kelahiran Nabi n tidak pernah diajarkan oleh Rasulullah n. Dan yang lebih mencengangkan lagi ternyata perayaan ini sama seperti yang dilakukan oleh kaum nashrani ketika merayakan kelahiran Isa al-Masih. Berarti ini adalah bentuk menyerupai nashrani yang terlarang dalam syariat Islam.

Perayaan Tahun Baru Hijriyah

Sebagian orang ketika akan memasuki bulan muharram mereka merayakan apa yang disebut tahun baru Islam. Tujuan mereka ingin menampakkan syiar Islam dan berdalih, ‘bahwa tahun baru masehi aja dirayain, maka tahun baru Islam juga harus dirayakan.’

Mengagungkan syiar-syiar Allah k merupakan perbuatan mulia dan tanda ketakwaan. Allah k berfirman, artinya, “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syi’ar-syi’ar Allah, maka sesungguhnya itu timbul dari ketakwaan hati.” (QS. al-Hajj: 32)

Namun, bentuk mengagungkan syiar-syiar Allah k itu tentunya harus didasarkan pada koridor syariat. Kalau kita menelisik lebih jauh perayaan ini, ternyata tidak ada dalil dan contoh dari Rasulullah n melakukan perayaan ini. Bahkan Rasulullah n ketika melihat kaum anshar di Madinah merayakan hari raya yang bersumber dari kaum kafir, maka Rasulullah n bersabda, “Sesungguhnya Allah telah menggantikan dua hari tersebut dengan hari raya yang lebih baik, yaitu’ Idul Adh-ha dan ‘Idul Fitri.”

Kemudian perkataan mereka, ‘bahwa tahun baru masehi aja dirayain, maka tahun baru Islam juga harus dirayakan.’ Menunjukan dengan jelas bahwa ini terjadi karena tasyabuh yang telah dilarang dalam syariat Islam.

Isra’ dan Mi’raj

Orang-orang Katolik setiap tahun selalu merayakan Kenaikan Isa al-Masih atau Kenaikan Yesus Kristus. Hari besar ini merupakan hari besar Kristen untuk memperingati naiknya Yesus Kristus ke langit dengan disaksikan oleh pengikut-pengikutnya.  Ah acara seperti itu Cuma ada di agama Nashrani aja!!!! Eits tunggu dulu ternyata dalam agama Islam ada lho yang sama, mau tahu?

Yap betul, perayaan Isra dan Mi’raj adalah perayaan naiknya Nabi Muhammad ke langit biasanya dirayakan tanggal 27 bulan Rajab, meskipun sebenarnya tanggal pastinya para ulama banyak berselisih pendapat sih. Banyak kaum muslimin yang merayakan Isra dan Mi’raj ini. Biasanya mereka isi malam itu dengan qiyamullail kemudian puasa pada siang harinya. Berbagai perayaan pun diadakan untuk memperingati peristiwa yang menjadi salah satu mu’jizat Nabi ntersebut.

Waduh ternyata acara-acara tadi tuh mengandung penyerupaan kepada Non Muslim yach? Belum lagi yang menyerupai agama Hindu. Heh emang ada yang sama dengan Hindu? Lho lihat saja, acara nujuh bulanan bagi wanita yang hamil itu kan asalnya dari orang Hindu. Begitu juga Tahlilan atau Selamatan Kematian selama 7 hari, 40, 100 s / d 1000 hari itu semua adalah acara agama hindu, lalu kaum muslimin mengikutinya.

Walah-walah terus gimana yach biar g terjebak dalam penyerupaan dengan non muslim? Cara yang paling penting yach belajar memperdalam agama Islam yang shahih. Karena jika terus mencari ilmu agama lalu beribadah dengan ilmu itu akan menjadikan kita selamat. Sebaliknya jika ibadah dilandasi dengan kebodohan, maka akan menyesatkan, sebagaimana perkataan Umar bin Abdul Aziz v,

مَنْ عَبَدَ اللَّهَ بِجَهْلِ أَفْسَدَ أَكْثَرَ مِمَّا يُصْلِحُ

“Barangsiapa beribadah kepada Allah dengan kebodohan, dia telah membuat kerusakan lebih banyak daripada membuat kebaikan.” (Majmu ‘Fatawa, 25/281)

Demikianlah, beberapa bentuk tasyabuh dengan non Islam yang (masih) senantiasa dirayakan oleh kaum muslimin. Semoga kita bisa terjaga dari itu semua dan senantiasa berjalan dalam koridor syariat-Nya k. Wallahu a’lam bishawab. (Redaksi)

[Diambil dari berbagai sumber]

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: