jump to navigation

Sinners alone, not saints, celebrate their birthdays Januari 13, 2013

Posted by arifardiyansah in Tak Berkategori.
Tags: , , , , , ,
trackback

berikut kiriman tulisan dari istri teman, ana kira isinya sangat bermanfaat maka kami tampilkan di blog ini. semoga bermanfaat

oleh: @ Ummu Ashhama Novita Kartikasari

 

Pagi, 18 November 1990

 Sempatkanlah saat itu buatmu

Untuk tersenyum pada fajar yang akan menyapamu

Atau mendengar nyanyi hujan dan burung-burung

Yang punya lagu istimewa buatmu

Karena mereka bawa juga

Salam selamat ulang tahun dariku

. . . .

 Saat SMA dulu, membaca puisi di atas di hari yang istimewa…. Betapa berdebar-debar dan senangnya saya menantikan kejutan istimewa dari keluarga dan teman-teman pada saat tersebut, sesederhana apapun itu.  

Senang rasanya bilamana bisa merayakan hari ulang tahun kelahiran walau hanya dengan sebatang coklat. Sebaliknya, amat sedih rasanya bila tidak ada seorangpun yang mengingat hari kelahiran saya untuk kemudian mengucapkan selamat.

Bagaimana denganmu? Sepertinya tidak beda, ya?! Hmm… jika sampai sedemikian ulang tahun kelahiran mempengaruhi pikiran, perasaan dan tingkah laku kita, bahkan hampir pada sebagian besar manusia di dunia ini, maka tentunya ini adalah buah pemikiran yang luar biasa. Si pencetus budaya ini mampu mempengaruhi perasaan manusia dari masa ke masa.

Suatu pendapat berbeda tentang perayaan ulang tahun yang disampaikan kepada saya beberapa tahun silam membuat saya penasaran untuk mencari jawaban; Ada apa gerangan di balik perayaan ulang tahun kelahiran yang memikat ini?! Siapa pencetus perayaan ini dengan cara menakjubkan sehingga mampu menyihir manusia dari masa ke masa? Kemudian, adakah yang salah dengan perasaan istimewa tadi? Terlalu berlebihankah untuk kesertaan dalam pembiasaan perayaan tersebut?

Informasi yang menjawab pertanyaan saya di atas membuat saya tertegun. 

Perayaan Ritual Ibadah Masa Lampau

Bila kita telusuri, perayaan ulang tahun kelahiran atau natal ternyata telah ada sejak zaman dahulu bahkan sejak masa kejayaan Romawi dan Persia.

“The ancient world of Egypt, Greece, Rome and Persia celebrated the birthdays of gods, kings, and nobles… Although the ancient Israelis kept records of the ages of their male citizens, there is no evidence that they had any festivities on the anniversary of the birth date.  “[Encyclopedia Americana, 1991]. [1]

“History of celebration of birthdays in the West It is thought that the large-scale celebration of birthdays in Europe began with the cult of Mithras, which originated in Persia but was spread by soldiers through-out the Roman Empire. Before this, such celebrations were not common; and, hence, practices from other con-texts such as the Saturnalia were adapted for birthdays. Because many Roman soldiers took to Mithraism, it had a wide distribution and influence throughout the empire until it was supplanted by Christianity.” [Wikipedia. Birthdays. July 12, 2007 version]. [2]

Rupanya orang Kristen dan Barat mengadopsi perayaan ulang tahun kelahiran ini dari ritual pagan pada masa Romawi Kuno. Mereka ini ternyata menyonteknya dari ritual peribadatan pagan Persia pada hari ulang tahun dewa matahari Mithra.

Fakta yang lebih mengejutkan lagi ternyata ribuan tahun sebelumnya, Firaun telah merayakan ritual ulang tahun kelahiran ini jauh sebelum Kaisar Herodes merayakannya di Kekaisaran Romawi. Kitab Perjanjian Lama mencatatnya dengan teliti:

Now it came to pass on the third day, which was Pharaoh’s birthday, that he made a feast for all his servants; and he lifted up the head of the chief butler and of the chief baker among his servants. Then he restored the chief butler to his butlership again, and he placed the cup in Pharaoh’s hand. But he hanged the chief baker (Genesis 40:20-22).

Para Pemuka Kristen Pernah Melarang Keras Perayaan Ulang Tahun Kelahiran untuk Melindungi Kemurnian Ajaran Kristen dari Pengaruh Paganisme

Perayaan ulang tahun yang berasal dari ritual ibadah kaum pagan untuk mengagungkan dewa bukannya tidak disadari oleh para pemuka agama Kristen; oleh karena itu di masa-masa awal tersebarnya tradisi perayaan ulang tahun kelahiran ini, mereka dengan keras melarangnya untuk melindungi kemurnian ajaran Kristen dan ritual Kristen dari pengaruh paganisme dan agar ritual Kristen tidak tercampur-baur dengan ritual pagan.

Missionaris  Kenneth C. Herrmann dalam Should Christians Celebrate BIRTHDAYS?  menegaskan:

Search your Bible! How many birthday celebrations do you find? A Pharaoh in Egypt celebrates his birthday by hanging his chief baker (Gen.40). Herod, on his birthday, grants the request of the daughter of Herodias and orders John the Baptist beheaded (Matt. 14:6-10). Only two definite birthday celebrations in the entire Bible![3]  

Tulisan-tulisan paderi Katolik akhir abad ketiga, Arnobius, menunjukkan hal penentangan keras atas masuknya budaya ritual ulang tahun kelahiran ke dalam kehidupan sosial masyarakat Kristen saat itu:

…you worship with couches, altars, temples, and other service, and by celebrating their games and birthdays, those whom it was fitting that you should assail with keenest hatred. [Arnobius. Against the Heathen (Book I), Chapter 64. Excerpted from Ante-Nicene Fathers, Volume 6. Edited by Alexander Roberts & James Donaldson. American Edition, 1886. Online Edition Copyright © 2005 by K. Knight]. [4]

 Pendeta Rod Reynolds dari Living Church mencoba mengungkap kembali alasan penentangan keras para pemuka gereja pada masa lalu tersebut:   

“When we examine the principles of God’s law closely, as they relate to birthday celebrations, we can understand why neither Christ, nor His Apostles, nor their true followers, observed their birthdays. As noted earlier, the practice has its origin in idolatry and the worship of the sun, moon and stars…Some may view birthday customs as purely secular, lacking any religious significance. Yet we need to be aware of the broader perspective of their origins, and the religious significance they have had—and still have—for vast multitudes of people. [Reynolds, Rod. Should Christians Celebrate Birthdays? Living Church News, May-June 2002. pp.16-18].

Teolog Katolik abad ke-3, Origen of Alexandria menyuarakan penentangan keras dan tertulis pula di manuskrip-manuskrip suci Kristen dalam untaian kalimat tegas untuk memperingatkan kaum kristiani dari tradisi ulang tahun kelahiran ini: “Sinners alone, not saints, celebrate their birthdays”  [5]

“Origen, glancing perhaps at the discreditable imperial Natalitia, asserts (in Lev. Hom. viii in Migne, P.G., XII, 495) that in the Scriptures sinners alone, not saints, celebrate their birthdays; Arnobius (VII, 32 in P.L., V, 1264) can still ridicule the “birthdays” of the gods.” [The Catholic Encyclopedia,  published in 1913]. [6]

“Of all the holy people in the Scriptures, no one is recorded to have kept a feast or held a great banquet on his birthday. It is only sinners (like Pharaoh and Herod) who make great rejoicings over the day on which they were born into this world below.” [The Catholic Encyclopedia, New York, 1911, Vol. X, page 709quoting Origen Adamantius of the 3rd century].

Perayaan Kelahiran Yesus: Adaptasi dari Ritual Kaum Pagan

Lalu datanglah Paus Liberius memutuskan untuk meleburkan ritual pagan itu ke dalam agama Kristen dengan maksud agar agama Kristen lebih mudah diterima oleh para penyembah berhala di Romawi.

In 354 A.D., Bishop Liberius of Rome ordered the people to celebrate on December 25. He probably chose this date because the people of Rome already observed it as the Feast of Saturn, celebrating the birthday of the sun.” [Sechrist E.H. Christmas. World Book Encyclopedia, Vol. 3. Field Enterprises Educational Corporation, Chicago, 1966, p. 408-417].[7]

 “Each year as the days became noticeably shorter in November and December, the Roman citizens feared that the earth may be “dying”. With the “return of the sun” at the end of December resulting in longer days, the Romans celebrated the “Feast of the Sol Invictus” (Unconquerable Sun”) on December 25. Bishop Liberius of Rome ordered in 354 that all Christians celebrate the birth of the Christ child on that day. Scholars believe that the bishop chose this date so that Christians, still members of an “outlaw religion” in the eyes of the Romans, could celebrate the birth of their Savior without danger of revealing their religious conviction, while their Roman neighbors celebrated another event.” [The Christian Book of Why, by John C McCollister, 1983, ISBN 0-8246-0317-6, Jonathan David Publishers, Inc.Middle Village, New York, 11379, pages 205-206].[8]

Maka sejak itu ritual perayaan ulang tahun untuk para dewa berubah menjadi ritual ulang tahun kelahiran Yesus Kristus di dalam agama Kristen, yang dikenal dengan Christmas Day atau Hari Natal.

Kado, Kue, dan Lilin Ulang Tahun Juga Berasal dari Ritual Pagan

Kado, kue dan lilin selalu jadi atribut penting di acara ritual ulang tahun. Tanpanya tidak meriah pastinya dan hilang kesan ulang tahunnya. Ternyata atribut tersebut juga berasal dari ritual pagan! 

The traditional birthday cake and candles also have their origin in ancient pagan idol worship. The ancients believed that the fire of candles had magical properties. They offered prayers and made wishes to be carried to the gods on the flames of the candles. Thus we still have the widely practiced birthday custom of making a wish, then blowing out the candles. The Greeks celebrated the birthday of their moon goddess, Artemis, with cakes adorned with lighted candles…”

“The Egyptians…discovered to which of the gods each month and day is sacred; and found out from the day of a man’s birth, what he will meet with in the course of his life, and how he will end his days, and what sort of man he will be” [Herodotus, Persian Wars, Book II, ch. 82]. [9]

“The giving of birthday gifts is a custom associated with the offering of sacrifices to pagan gods on their birthdays. Certainly the custom was linked with the superstitions that formed the background for birthday greetings. “The exchange of presents… is associated with the importance of ingratiating good and evil fairies… on their or our birthdays” [The Lore of Birthdays, New York, 1952, by Ralph and Adelin Linton, on pages 8, 18-20].[10]

Ucapan Selamat Ulang Tahun Punya Sejarah yang Sama

Lalu inilah asal-muasal ucapan selamat ulang tahun yang juga jadi bagian dari ritual tersebut:

Originally the idea [of birthday greetings and wishes for happiness] was rooted in magic. The working of spells for good and evil is the chief usage of witchcraft. One is especially susceptible to such spells on his birthday, as one’s personal spirits are about at that time. Dreams dreamed on the birthday eve should be remembered, for they are predictions of the future brought by the guardian spirits which hover over one’s bed on the birthday eve. Birthday greetings have power for good or ill because one is closer to the spirit world on this day. Good wishes bring good fortune, but the reverse is also true, so one should avoid enemies on one’s birthday and be surrounded only by well-wishers. ‘Happy birthday’ and ‘Many happy returns of the day’ are the traditional greetings…” [11]

Ternyata ucapan “Selamat Ulang Tahun” pun tak lepas dari jejak ritual pagan. Pernah saya mendapat ucapan, “Selamat Milad, ya..!” Sungguh suatu bentuk perhatian mengesankan yang saya hargai. Tapi mau-kah kita sesekali menggantinya dengan mengucapkan: “Selamat Natal, ya…”; (natal = kelahiran). Bukankah sama maknanya, hanya beda bahasa?

Beberapa Hal yang Menuntun Saya untuk Memutuskan: “Tidak Lagi”

Mulai jelaslah saat itu bagi saya bahwa ritual ulang tahun kelahiran ini benar-benar lengkap dan ditiru habis dari tradisi ritual pagan. Tak heran para pemuka agama Kristen dahulu amat sangat keras menentangnya. Ironisnya sampai saat ini kaum muslimin justru mengadopsinya begitu saja.

Sejarah ulang tahun membuat saya berkesimpulan dan ingin menghubungkannya dengan hal-hal berikut:

1]. Kalau kita merasa tak masalah dengan ikut merayakan ultah – dengan anggapan hanya selebrasi sederhana sebagai ungkapan rasa syukur – tentu tak masalah pula jika kaum muslimin ikut melakukan selebrasi Valentine’s Day (Hari Kasih Sayang), selama ditujukan bagi orang tua, guru, atau saudara misalnya?! [12] Demikian pula dengan perayaan-perayaan lain adopsi dari ritual non-muslim, asalkan sudah disesuaikan dengan nilai-nilai Islam?!

Padahal bukankah pada hakikatnya ia adalah peniruan dari ritual ibadah kaum pagan dan kafir yang diadakan sebagai ungkapan kesyukuran kepada dewa, berhala, dan tuhan mereka?

    Rasulullah n pernah mengingatkan:

لاَ تَقُومُ السَّاعَةُ حَتَّى تَأْخُذَ أُمَّتِى بِأَخْذِ الْقُرُونِ قَبْلَهَا ، شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ  . فَقِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَفَارِسَ وَالرُّومِ . فَقَالَ  وَمَنِ النَّاسُ إِلاَّ أُولَئِكَ

 

“Kiamat tidak akan terjadi hingga umatku mengikuti jalan generasi sebelumnya sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta.” Lalu ada yang menanyakan pada Rasulullah r: “Apakah mereka itu mengikuti seperti Persia dan Romawi?” Beliau menjawab, “Manusia yang mana lagi kalau bukan mereka itu?“ [13]

لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا فِى جُحْرِ ضَبٍّ لاَتَّبَعْتُمُوهُمْ . قُلْنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ آلْيَهُودَ وَالنَّصَارَى قَالَ فَمَنْ

“Sungguh kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sehasta demi sehasta sampai jika orang-orang yang kalian ikuti itu masuk ke lubang dhob, pasti kalian pun akan mengikutinya.” Kami (para sahabat) berkata, “Wahai Rasulullah, Apakah yang diikuti itu adalah Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab, “Lantas siapa lagi?”[14]

Imam An-Nawawi t menjelaskan hadits di atas, “Yang dimaksud dengan syibr (sejengkal), dziro (hasta) serta lubang dhob (lubang hewan tanah yang penuh liku-liku), adalah permisalan bahwa tingkah laku kaum muslimin sangat mirip sekali dengan tingkah Yahudi dan Nasrani. Yaitu kaum muslimin mencocoki mereka dalam kemaksiatan dan berbagai penyimpangan, bukan dalam hal kekufuran. Perkataan beliau r ini adalah suatu mukjizat bagi beliau r karena apa yang beliau katakan telah terjadi saat-saat ini.” [15]

Menyerupai (tasyabbuh) orang kafir ini terjadi dalam ibadah, pakaian, penampilan dan kebiasaan. Tasyabbuh diharamkan berdasarkan dalil Al-Qur’an, As-Sunnah dan kesepakatan para ulama (ijma’) [16]

Rasulullah r bersabda,   مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

 

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” [17]

2]. Perayaan ulang tahun tidak saja tasyabbuh tetapi juga pencampuradukan ibadah. Kaum muslimin jika masih mengadopsinya – dibuat se-Islami apa pun – mengingatkan saya akan ayat di bawah ini:

وَلاَ تَلْبِسُواْ الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُواْ الْحَقَّ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ

“Janganlah kamu campur-adukkan antara kebenaran dan kebatilan, dan kamu sembunyikan yang benar padahal kamu mengetahuinya.” [QS.Al-Baqarah: 42] [18]

3]. Lalu apakah sebenarnya yang dikehendaki dari ucapan selamat ulang tahun ini? Apakah ucapan selamat atas keberhasilan seseorang dalam memper-panjang umur dan mempertahankan hidup sehingga tidak mati? Jika ini intinya, maka bukankah ini adalah bagian dari takdir Allah yang telah ditentukan dan bukan atas kuasa orang tersebut? Bukankah ini berarti memalingkan dari apa yang menjadi hak Allah menjadi kepada manusia? Allah Ta’ala berfirman :

وَمَا كَانَ لِنَفْسٍ أَنْ تَمُوتَ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ كِتَابًا مُؤَجَّلا

“Sesuatu yang bernyawa tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya” [QS. Aali ‘Imraan: 145].

Atau apakah ucapan selamat ulang tahun ini dimaksudkan atas keberhasilan seseorang mem- perbaiki dan menambah amal-amal kebaikannya selama setahun berlalu? Jika ini intinya, maka bukankah ini bentuk dari sikap mengawasi seseorang secara kontinu selama setahun berjalan? Bukankah ini sikap yang tercela bilamana tidak ada tujuan untuk mengevaluasi diri seseorang dalam rangka mendidik?

Lantas jika tidak demikian, maka dari sisi manakah kita tahu dan memastikan bahwa orang tersebut telah memperbaiki dan menambah amal-amal kebaikannya selama setahun berlalu? Atau bahkan yang terjadi justru kebalikannya, bahwa selama setahun berlalu itu orang tersebut justru melakukan amal-amal yang buruk dan kita malah bergembira dan memberikan ucapan selamat kepadanya??!!  

Adapun jika ucapan selamat ulang tahun itu dimaksudkan sebagai doa untuk orang yang berulang tahun, lantas kenapakah hanya untuk mendoakan saja harus menunggu di hari ulang tahunnya? Jika seperti ini maka tergolong mengekor (tasyabbuh) kepada tradisi kaum pagan dan kafir yang diharamkan.   

Terlebih lagi, bukankah ada anjuran dan keutamaan bila kita mendoakan saudara kita justru pada saat ia tidak mengetahuinya? Nabi r pernah bersabda,”

إن دعوة المرء المسلم مستجابة لأخيه بظهر الغيب، عند رأسه ملك موكل، كلما دعا لأخيه بخير، قال: آمين، ولك بمثل”.

 

“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Amin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” [19]

Jadi teranglah ucapan selamat kepada seseorang di hari ulang tahunnya benar-benar  salah arah!

4]. Perayaan ulang tahun adalah perkara ibadah karena sejatinya berasal dari ritual kesyukuran untuk mengagungkan dewa. Tidak berbeda jauh dengan Valentine’s Day yang juga berasal dari ritual ibadah untuk dewa. [20] Acara ritual ini kemudian dilebur ke dalam agama Kristen untuk mensyukuri kelahiran Yesus sebagai Hari Natal. Lalu orang Kristen dan Barat mengadopsinya menjadi syukuran ritual di hari ulang tahun mereka. Akhirnya ditiru pula oleh kaum muslimin sebagai perayaan hari ulang tahun (maulid) Nabi Muhammad dan juga hari ulang tahun mereka. Semuanya berdalih sebagai ungkapan kesyukuran.

Bersyukur kepada Allah adalah perkara ibadah yang tidak boleh secara sembarang bisa dirayakan semau-maunya; dan Rasulullah r adalah  orang yang paling mengerti di dalam perkara ibadah bersyukur ini. Namun begitu, beliau r tidak pernah mengajarkan kepada kita tradisi ulang tahun kelahiran ini sebagai salah satu cara mengungkapkan rasa syukur tersebut. Terlebih lagi dengan cara yang diadopsi dari kaum pagan dan kafirin.

 Perkara ibadah menurut aqidah dan syariat Islam pelaksanaannya membutuhkan dalil dari nash Al-Qur’an dan as-Sunnah! Hal ini sesuai dengan kaidah:

الأصل في العبادات الحظر ؛ فلا يشرع منها إلا ما شرعه الله ورسوله

 

Asal hukum dalam ibadah adalah dilarang; maka tidak disyariatkan daripadanya melainkan apa yang disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya. [21]

 Oleh karena itu adalah tidak layak seorang muslim merayakan ulang tahun kelahirannya walau hanya dengan sebutir permen. Atau juga dengan dalih mensyukuri nikmat Allah I. Kenapa?

Karena mengungkapkan rasa syukur kepada Rabbul ‘alamin adalah bagian dari ibadah yang pelaksanaannya haruslah diwujudkan dengan cara-cara yang sesuai dengan ketetapan syariat-Nya yang suci. Tidak dengan cara-cara yang berasal dari ritual-ritual kemusyrikan. Allah Ta’ala berfirman:

وَإِن كَادُواْ لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذاً لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً. وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئاً قَلِيلاً . إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيراً

“Dan hampir-hampir mereka itu merusak (keyakinanmu) terhadap ayat-ayat yang telah Kami wahyukan kepadamu, agar engkau mengadakan kata-kata dusta akan kami (dengan perintah) selain Nya. Selanjutnya (apabila engkau mentaati mereka) pastilah mereka menjadikan dirimu sebagai kekasih. Dan apabila tidak Kami teguhkan (keimananmu) sungguh hampir-hampir engkau condong sedikit kepada mereka. Dan apabila engkau telah condong kepada mereka (orang orang musyrik) itu, Kami timpakan kepadamu siksa yang berlipat lipat di dunia dan siksa yang berlipat-lipat setelah kematian, kemudian engkau tidak akan mendapatkan pertolongan sedikitpun dari Kami.” [QS. Al-Isra’ 73-75].

Al-Imam as-Suyuthi menjelaskan sebab turun ayat ini di kitabnya Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul :

خرج امية بن خلف و أبو جهل بن هشام و رجال من قريش. فأتو رسول الله r فقالو: يا محمد، تعل تمسّح بالهتنا وندخل معك في دينك وكان يحب إسلام قومه، فروّ لهم، فأنزل الله: “<<وَإِن كَادُواْ لَيَفْتِنُونَكَ عَنِ الَّذِي أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ لِتفْتَرِيَ عَلَيْنَا غَيْرَهُ وَإِذًا لاَّتَّخَذُوكَ خَلِيلاً وَلَوْلاَ أَن ثَبَّتْنَاكَ لَقَدْ كِدتَّ تَرْكَنُ إِلَيْهِمْ شَيْئًا قَلِيلاً إِذاً لَّأَذَقْنَاكَ ضِعْفَ الْحَيَاةِ وَضِعْفَ الْمَمَاتِ ثُمَّ لاَ تَجِدُ لَكَ عَلَيْنَا نَصِيرًا>>

“Umayyah Ibnu Khalaf , Abu Jahl Ibnu Hisyam dan sejumlah tokoh Quraisy keluar mendatangi Rasulullah r, lalu mereka berkata, “Hai Muhammad, mari ke sini kamu usap tuhan-tuhan kami dan (nanti) kami masuk bersamamu di dalam agamamu.” Sedangkan beliau ini menginginkan keislaman kaumnya, maka beliau r luluh terhadap mereka, maka Allah menurunkan [QS. Al-Isra: 73-75]: “Dan mereka hampir memalingkan engkau (Muhammad) dari apa yang telah Kami wahyukan kepadamu…dst.”

Jadi ayat ini turun terkait bujukan sejumlah tokoh dari Quraisy kepada Rasulullah  r agar bersedia mencampur-adukkan kemurnian tauhid dengan kesyirikan. Perhatikan: dengan hanya mengusap

Maka bagaimana lagi dengan perbuatan merayakan ulang tahun kelahiran yang meniru-niru ritual kaum pagan dan kafir, mempraktikkannya, mencampurnya dengan ajaran Islam dan menjadikannya sebagai tradisi yang mendarah daging? Tentu lebih parah lagi!   

Padahal kita diperintahkan untuk menyelisihi dan menjauhi kebiasaan yang menjadi ciri khas mereka.

Allah I berfirman:

وَلاَ تَرْكَنُواْ إِلَى الَّذِينَ ظَلَمُواْ فَتَمَسَّكُمُ النَّارُ وَمَا لَكُم مِّن دُونِ اللّهِ مِنْ أَوْلِيَاء ثُمَّ لاَ تُنصَرُونَ

“Dan janganlah kamu condong kepada orang-orang yang zalim (kafir) sehingga kamu pasti terbakar api neraka, dan kamu tidak akan mendapatkan penolong selain Allah, kemudian mereka itu pun tidak akan mampu memberikan pertolongan kepadamu.” [QS. Hud: 113].

5]. Lagipula, perbuatan mengistimewakan hari kelahiran ini termasuk dalam kategori “Id” yang terlarang. Yakni hari perayaan yang dilakukan secara rutin, baik setiap tahun, setiap bulan, atau setiap pekan dalam rangka ibadah dan taqarrub kepada Allah. Rasulullah r menyatakan bahwa ‘Id adalah bagian dari agama. Beliau r bersabda:

إن لكل قوم عيدا ، وهذا عيدنا

 

 “Setiap kaum memiliki ‘Id (perayaan) sendiri dan ‘Idul Fithri ini adalah ‘Id kita (kaum muslimin).” [22]

Jelas sekali dalam hadits di atas Rasulullah r menyatakan dengan tegas bahwa ‘Id adalah ciri dari suatu kaum. ‘Id yang menjadi ciri dari kaum muslimin adalah ‘Idul Fithri dan ‘Idul Adha, sebagaimana diungkapkan dalam hadits:

الفطر يوم يفطر الناس ، والأضحى يوم يضحي الناس

“‘Idul Fithri adalah hari berbuka puasa, ‘Idul Adha adalah hari menyembelih.” [23]  

Jika ‘Id yang menjadi ciri kaum muslimin adalah hanya ‘Idul Adha dan ‘Idul Fithri, maka ‘Id yang lain adalah ciri dari kaum selain kaum muslimin.

Sebagian orang mungkin belum mau menerima penjelasan bahwa membuat hari-hari perayaan baru selain dua hari raya tersebut adalah terlarang dan termasuk tasyabbuh. Namun kenyataannya Nabi r memang secara khusus telah melarang kaum muslimin membuat hari raya (‘Id) baru selain yang telah dicukupkan syariat.  Hal ini diceritakan oleh Anas bin Malik t:

قدم رسول الله r المدينة ولهم يومان يلعبون فيهما فقال ما هذان اليومان قالوا كنا نلعب فيهما في الجاهلية فقال رسول الله r إن الله قد أبدلكم بهما خيرا منهما يوم الأضحى ويوم الفطر

“Saat Rasulullah r tiba di Madinah, warga Madinah memiliki dua hari raya di mana mereka biasa bersenang senang. Rasulullah r bertanya, “Perayaan apakah yang dirayakan di dua hari ini?”  Warga menjawab, “Di dua hari raya ini, dahulu di masa jahiliyyah kami biasa merayakannya dengan bergembira ria.” Maka Rasulullah r bersabda, “Sungguh Allah telah mengganti hari raya kalian dengan yang lebih baik, yaitu Idul Adha dan Idul Fithri.” [24]

Dalam riwayat yang lain beliau r bersabda:

قَدِمْتُ عَلَيْكُمْ وَلَكُمْ يَوْمَانِ تَلْعَبُوْنَ فِيْهِمَا فِي الْجَاهِلِيَّةِ, وَقَدْ أَبْدَلَكُمُ اللهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا: يَوْمَ النَّحْرِ وَيَوْمَ الْفِطْرِ

“Aku datang pada kalian sedang kalian memiliki dua hari raya yang kalian besenang-senang di dalamnya pada masa jahiliyah. Sungguh Allah telah menggantikan untuk kalian yang lebih baik dari dua hari itu yaitu: Idul Qurban dan Idul Fithri.” [25]

Hadits di atas menegaskan ‘Id yang dirayakan oleh warga Madinah ketika itu yakni hari raya tahun baru Nairuz (Kristen Koptik) dan tahun baru Mahrajan (Persia), bukanlah hari yang dirayakan oleh warga Madinah untuk ibadah sebagai ungkapan kesyukuran akan tetapi hanyalah untuk turut bergembira-ria dan bersenang-senang. Akan tetapi pada kenyataannya Rasulullah r justru melarangnya dengan keras. Maka bagaimana pula bila hal itu terkait ibadah bahkan diadaptasi dari ritual kaum pagan dan kafir seperti perayaan ulang tahun ini? Tentu lebih terlarang lagi!

Hakikat Mensyukuri Nikmat Allah I

Mensyukuri nikmat Allah sering dijadikan dalih oleh orang untuk merayakan hari ulang tahun. Alhamdulillah, sanggahan atas dalih ini telah saya sampaikan di muka. Saudaraku, mensyukuri nikmat Allah berupa kehidupan, kesehatan, usia panjang, dilakukan setiap saat setiap hari. Ini tidak membutuh-kan perlakuan khusus dengan ritual setahun sekali sebagaimana yang dilakukan kaum pagan dan kafir.

Saudaraku, tidakkah tergolong sifat kikir bilamana nikmat Allah turun setiap saat setiap hari lantas kita malah mensyukurinya setahun sekali?

Demikian juga refleksi diri, mengoreksi apa yang kurang dan apa yang perlu ditingkatkan dari diri kita selayaknya menjadi renungan harian setiap muslim, bukan renungan tahunan. Bukankah kita tidak tahu kapan ajal menjemput kita sehingga kesempatan beramal kita terputus tiba-tiba?!

Maka dari itu alangkah bahagianya kita memiliki Nabi yang telah mengajarkan agar kita bersyukur setiap saat setiap hari baik dengan hati, lisan maupun perbuatan sehingga terhindar dari sifat kikir tersebut.

Adapun bentuk syukur yang dianjurkan untuk diungkapkan setiap saat setiap hari di antaranya:

  1. 1.      Taat dan taqwa kepada Allah

Allah I berfirman: 

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

“Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya” [QS.Ali Imran: 123]

 

  1. 2.      Banyak menyebut nikmat dari Allah

Allah I berfirman:     وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ

“Dan nikmat yang diberikan oleh Rabbmu, perbanyaklah menyebutnya.” [QS. Adh Dhuha: 11]

  1. 3.      Shalat

Bentuk rasa syukur yang teragung adalah dengan beribadah kepada Allah semata dan tidak menyekutu kan-Nya dengan sesuatu apapun. Allah I berfirman:

   بَلِ اللَّهَ فَاعْبُدْ وَكُنْ مِنَ الشَّاكِرِينَ

 

“Beribadahlah hanya kepada Allah dan jadilah hamba yang bersyukur.” [QS. Az Zumar: 66]

 

أَنَّ نَبِيَّ اللهِ r كَانَ يَقُومُ مِنَ اللَّيْلِ حَتَّى تَتَفَطَّرَ قَدَمَاهُ، فَقَالَتْ عَائِشَةُ: لِمَ تَصْنَعُ هَذَا يَا رَسُولَ اللهِ، وَقَدْ غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ؟ قَالَ: أَفَلاَ أُحِبُّ أَنْ أَكُونَ عَبْدًا شَكُورًا؟

(Dari ‘Aisyah x ia berkata): “Nabi r bangun (untuk shalat) di malam hari sampai pecah-pecah kedua kaki beliau. Lalu ‘Aisyah berkata: “Ya Rasulullah, kenapa engkau melakukan ini, padahal Allah telah meng-ampuni dosamu yang telah lewat dan akan datang?” Beliau r menjawab, “Apakah aku tidak suka menjadi hamba yang bersyukur?” [HR. Al-Bukhari no. 4660].

  1. 4.      Sujud Syukur

عن أبي بكرة نفيع بن الحارث t قال: كان رسول الله r إذا جاءه أمر بشر به خر ساجدا؛ شاكرا لله

“Dari Abu Bakrah Nafi’ Ibnu Harits t ia berkata, “Rasulullah r biasanya jika menjumpai sesuatu yang menggembirakan beliau bersimpuh untuk sujud. Sebagai ungkapan rasa syukur kepada Allah.” [26]

  1. 5.      Berdzikir

Ada banyak dzikir yang diajarkan Rasulullah r yang khusus untuk mengungkapkan rasa syukur kepada Allah I. Berikut di antaranya sebagai contoh:

a).   Dzikir pagi dan petang; Rasulullah r bersabda:

من قال حين يصبح: اللّهُمَّ مَا أَصْبَحَ بِـيْ مِنْ نِعْمَةِ أَوْ بِأَحَدٍ مِنْ خَلْقِكَ فَمِنْكَ وَحْدَكَ لاَ شَرِيْكَ لَكَ، فَلَكَ الْحَمْدُ وَلَكَ الْشُّكْرُ. فقد أدى شكر يومه، ومن قال ذلك حين يمسي فقد أدى شكر ليلته.

“Barangsiapa di pagi hari berdzikir: “Allahumma ashba- ha bii min ni’matin au biahadin min khalqika faminka wah daka laa syariikalaka falakal hamdu wa lakasy-syukru.” (Ya Allah, atas nikmat yang Engkau berikan padaku hari ini atau yang Engkau berikan kepada salah satu dari makhluk-Mu, maka sungguh nikmat itu hanya dari-Mu dan tidak ada sekutu bagi-Mu. Segala pujian dan ucap syukur hanya untuk-Mu) Maka ia telah memenuhi harinya dengan rasa syukur. Dan siapa yang mengucap kannya pada sore hari, ia telah memenuhi malamnya dengan rasa syukur.” [27]

b).  Dzikir setelah shalat

اللّهُمَّ أَعِنِّيْ عَلىَ ذِكْرِكَ، وَشُكْرِكَ، وَحُسْنِ عِباَدَتِكَ

Ya Allah aku memohon pertolonganmu agar Engkau menjadikan aku hamba yang senantiasa berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadamu dengan baik.”  [28]

 

  1. 6.      Qana’ah

Merasa cukup atas nikmat yang ada pada diri kita termasuk bersyukur kepada Allah. Nabi r bersabda:

كن ورعا تكن أعبد الناس ، و كن قنعا تكن أشكر الناس

“Jadilah orang yang wara’, maka engkau menjadi hamba yang paling berbakti. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi hamba yang paling bersyukur.” [29]

  1. 7.      Berterima kasih kepada manusia

Nabi r bersabda:   لا يشكر الله من لا يشكر الناس

 

“Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia, berarti ia tidak bersyukur kepada Allah.” [30]

من صنع إليه معروف فقال لفاعله: جزاك الله خيرا فقد أبلغ في الثناء

“Barangsiapa yang diberikan satu kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan: ‘Jazaakallahu khayr’ (semoga Allah membalasmu dengan kebaikan), maka sungguh hal itu telah mencukupinya dalam menyatakan rasa syukurnya.” [31]

Masih banyak lagi bentuk kesyukuran yang bisa diungkapkan setiap saat setiap hari yang diajarkan oleh Nabi r. Maka apakah kita akan menengok kepada cara kaum pagan dan kafir sedangkan di sisi kita masih banyak tuntunan Nabi r yang agung dan belum kita amalkan?                            `

 


[1] Lihat juga http://en.wikipedia.org/wiki/Talk%3ABirthday 

[2] Lihat juga “The Christmas Celebrations In December: Are They Right or Wrong?” di http://www.jesuswordsonly.com/

Recommended-Reading/christmas-celebrations-right-or-wrong.html ;  juga di wiki.answers.com/Q /What_is_the_ history_of_birthday_party).

[3] http://home.sprynet.com/~pabco/birthday.htm 

[4] Lihat juga: http://www.cogwriter.com/news/church-history/did-early-gentile-christians-celebrate-birthdays/ 

[5]Hanya orang-orang kafir pendosa – bukan orang-orang suci- yang merayakan hari ulang tahun kelahiran mereka”

[6] Lihat juga Catholic Encyclopedia online di sub Christmas :   

http://www.catholic.org/encyclopedia/view.php?id=2933

[7] Lihat: www.cogwriter.com/news/church-history/ catholic-teachings-on-christmas/ dan www.bible.com/ bibleanswers_result.php?id=168 . 

[8] Lihat juga: www.cogwriter.com/news/church-history/ catholic-teachings-on-christmas/ .

[9] Lihat juga di http://en.wikipedia.org/wiki/Birthday_cake

[10] Lihat juga di http://www.cogwriter.com/birthdays.htm

[11] Idem.

[12] Lihat sejarah Valentine’s Day yang berasal dari ritual penyembahan dewa di dalam buku Ada Apa Dengan Valentine’s Day, Yayasan Al-Sofwa 2011.

[13]  HR. Bukhari no. 7319, dari Abu Hurairah.

[14]  HR. Muslim no. 2669, dari Abu Sa’id Al Khudri.

[15] Al-Minhaj Syarh Shohih Muslim, An-Nawawi, 16/220, Dar Ihya’ At Turots Al ‘Arobiy, Cet.-2, 1392H.

[16] Lihat penukilan ijma’ dalam Iqtidho’ Ash Shirotil Mustaqim, 1/363, Wazarotu Asy Syu-un Al Islamiyah, cet-7, 1417 H.

[17] HR. Ahmad dan Abu Daud. Syaikhul Islam (Iqtidho‘ 1/269) mengatakan sanad hadits ini bagus. Al-Albani mengatakan hadits ini shohih, lihat Irwa’ul Gholil no. 1269.

[18] Imam Qatadah dan Imam Mujahid menafsirkan: “Janganlah kamu campur adukkan antara agama Yahudi dan Nasrani dengan Islam.“  Lih. Al-Jami’ Li Ahkamil Qur’an, Al-Qurthubi, 1/233 dan Tafsir Al-Qur’anul Adzhim, Ibnu Katsir, 1/133.

[19] HR. Muslim; Kitab AdzDzikr wad Du’aa’, hal. 88; Ash- Shohihah no. 1399.

[20] Lihat Ada Apa Dengan Valentine’s Day, Al-Sofwa 2011.

[21] Ibnu Hajar Al-Asqalani Asy-Syafi’i (w 852 H) berkata di kitabnya Fathul Bari Syarah Shohih Bukhari 3/54 Bab Sholat Dhuha Ketika Safar:   الأَصْلُ فِيْ الْعِبَادَةِ التَّوْقِفِ

”Hukum asal dalam (perkara) ibadah adalah tawaqquf (berhenti hingga ada dalil syar’i)”

[22]  HR. Bukhari no. 952, 3931, Muslim no. 892.

[23] HR.Timidzi no.802 dishahihkan Al-Albani di Shahih At Tirmidzi.

[24]  HR. Abu Daud, 1134, dihasankan oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani di Hidayatur Ruwah, 2/119, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Abi Daud, 1134.

[25]  Hadits shahih, dikeluarkan oleh Ahmad 3/103,178,235, Abu Daud 1134, An-Nasa’i 3/179 dan Al-Baghawi, 1098.

[26] HR.Abu Daud no.2776, dihasankan Al-Albani di Irwa Al-Ghalil.

[27] HR. Abu Daud no.5075, dihasankan Syaikh Abdul Qadir Al Arnauth dalam tahqiqnya terhadap kitab Raudhatul Muhadditsin.

[28] Lihat Shahih Abu Dawud, 1/284. dan An-Nasai 3/53.

[29]HR.Ibnu Majah no.4357 dishahihkan Al-Albani di Shahih Ibn Majah.

[30] HR. Tirmidzi no.2081, ia berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

[31]HR.Tirmidzi no.2167,ia berkata:“Hadits ini hasan jayyid gharib.”

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: