jump to navigation

SELAMAT ULANG TAHUN, WAHAI NABI? Februari 3, 2013

Posted by arifardiyansah in Tak Berkategori.
Tags: , ,
trackback

Nabi r merayakan ulang tahun? “Ya, dan selamat ulang tahun, wahai Nabi r!” Bukankah ada hadits dari Abu Qatadah al-Anshari t bahwa Rasulullah r ditanya tentang puasa hari Senin, beliau r menjawab,

“ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيْهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَيَّ فِيْهِ.”

“Hari tersebut merupakan hari aku dilahirkan, dan hari aku diutus atau diturunkannya al-Qur-an kepadaku pada hari tersebut.” [1] ?  Jadi tidaklah mengapa jika kita merayakan juga ulang tahun kita – demikian kata mereka. 

 

Maka kita katakan: Benar, Nabi r pernah bersabda demikian akan tetapi ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yakni:

Pertama; Beliau r berpuasa pada hari Senin yang berulang setiap bulan sebanyak 4 atau 5 kali. Akan tetapi Nabi r tidak pernah berpuasa pada tanggal kelahiran beliau, yaitu 12 Rabi’ul Awwal yang berulang satu tahun sekali -itupun tidak ada kepastian tanggal kelahiran beliau-.

Jadi bukankah ini tepatnya disebut sebagai ulang pekan dan bukan ulang tahun?

Bahkan beliau r tidak pernah mengkhususkan mengerjakan amalan-amalan tertentu pada tanggal kelahirannya setiap tahunnya. Ini adalah bukti yang menunjukkan bahwa beliau r tidak menganggap tanggal kelahiran beliau lebih utama daripada yang lainnya. [2]

Kedua; Andaikan yang diinginkan dari perayaan ulang tahun adalah sebagai bentuk kesyukuran kepada Allah I atas nikmat kelahiran, maka yang lebih masuk akal adalah kalau pelaksanaan kesyukuran tersebut sesuai dengan pelaksanaan kesyukuran Nabi r atasnya, yakni dengan berpuasa. Oleh karena itu, hendaknya kita berpuasa pada hari kelahiran kita. Bukan malah makan-makan, menghambur-hamburkan uang untuk acara seremonial, atraksi dan semisalnya.

 Ketiga; Namun kalaulah kita berpuasa pada setiap hari kelahiran kita, maka ini adalah perkara bid’ah yang mengada-ada di dalam syariat. Hal ini karena beliau r tidak pernah memerintahkan kepada para sahabatnya dan kaum muslimin untuk berpuasa sepekan sekali atau setahun sekali di hari lahir mereka. Tidak ada satupun contoh dari para sahabat atau himbauan para ulama agar setiap diri kaum muslimin berpuasa di hari kelahirannya.

Keempat; Jawaban beliau r ditujukan kepada sahabat generasi terbaik umat ini. Akan tetapi tidak ada satupun para sahabat yang memahaminya sebagai landasan untuk merayakan ulang tahun kelahiran mereka.

Kita katakan kepada mereka, “Hadits ini tertuju kepada para sahabat! Lantas kenapa mereka semua tidak pernah merayakan hari kelahiran mereka (yang berulang setiap pekan) atau merayakan ulang tahun  (yang berulang setiap tahun) sebagai bentuk pengamalan bagi hadits ini?!

Kenapa juga beliau r tidak pernah memerintahkan para sahabat dan keluarga beliau untuk melakukannya?! Padahal beliau r adalah orang yang paling bersemangat mengajari manusia dengan perkara bermanfaat yang mendekatkan manusia kepada Allah.”

Ibnu ‘Abdil Hadi asy-Syafi’i (w 744H) t berkata,

“… dan tidak boleh memunculkan penafsiran terhadap suatu ayat atau sunnah dengan penafsiran yang tidak pernah ada di zaman para ulama salaf, yang mereka tidak diketahui dan tidak pernah pula mereka jelaskan kepada ummat. Karena perbuatan ini mengandung (tudingan) bahwa mereka tidak mengetahui kebenaran, lalai darinya. Sedang yang (dianggap) mendapat hidayah kepada kebenaran itu adalah sang pengkritik yang datang belakangan, maka bagaimana lagi jika penafsiran itu  menyelisihi dan bertentangan dengan penafsiran mereka ?!” [ash-Sharimil Munky fir Roddi ‘alas Subky, h. 427].

Kelima, Nabi r tidaklah mengkhususkan berpuasa hanya pada hari Senin saja akan tetapi beliau juga merangkainya dengan berpuasa pada hari Kamis sebagai satu kesatuan; sebagaimana dalam hadits Abu Hurairah t: “Rasulullah r  bersabda,

تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ اْلإِثْنَيْنِ وَالْخَمِيْسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِي وَأَنَا صَائِمٌ.

“Amal-amal manusia diperiksa (dihadapkan) pada setiap hari Senin dan Kamis, maka aku menyukai amal perbuatanku diperiksa sedangkan aku dalam keadaan berpuasa.” [3]

تُفْتَحُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ يَوْمَ الاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ لاَ يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا إِلاَّ رَجُلاً كَانَتْ بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ، فَيُقَالُ: أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا، أَنْظِرُوا هَذَيْنِ حَتَّى يَصْطَلِحَا.”

“Pintu-pintu Surga dibuka pada hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun akan diampuni dosa-dosanya, kecuali seseorang yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan. [4] Lalu dikatakan, ‘Tundalah pengampunan atas kedua orang ini sampai keduanya berdamai (3x).” [5]

“تُعْرَضُ أَعْمَالُ النَّاسِ فِي كُلِّ جُمُعَةٍ مَرَّتَيْنِ يَوْمَ اْلاثْنَيْنِ وَيَوْمَ الْخَمِيسِ فَيُغْفَرُ لِكُلِّ عَبْدٍ مُؤْمِنٍ إِلاَّ عَبْدًا بَيْنَهُ وَبَيْنَ أَخِيهِ شَحْنَاءُ.”

“Amal-amal manusia diperiksa di hadapan Allah dalam setiap pekan (Jumu’ah) dua kali, yaitu hari Senin dan Kamis. Maka semua hamba yang beriman terampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang antara dia dan saudaranya terjadi permusuhan…” [6]

Jadi Rasulullah r berpuasa pada hari Senin adalah karena adanya keutamaan-keutamaan hari Senin dan Kamis sebagaimana tersebut di atas. Nyatanya beliau r tidaklah berpuasa di hari Senin saja namun dirangkai dengan hari Kamis dalam satu kesatuan. Oleh karenanya disukai agar kita berbuat kebaikan pada dua hari ini guna meraih pahala atas keutamaan tersebut.

Bahkan puasa di hari Senin saja untuk hari kelahiran Nabi atau pada hari kita lahir atau pada tanggal kita lahir adalah bid’ah dalam ibadah, karena tidak diperintahkan syariat. Terlebih bila merujuk ke para sahabat Nabi y, kita tidak menemukan setiap mereka sibuk berpuasa di hari kelahiran mereka atau sibuk merayakan hari kelahiran mereka.

Jadi, berdalil dengan riwayat puasa hari Senin untuk membolehkan perayaan ulang tahun adalah puncak takalluf (pemaksaan) dalil dan merupakan pendapat yang sangat jauh dari kebenaran. Apalagi bila melihat dari sisi historis peringatan dan perayaan ulang tahun yang berasal dari ritual pagan Persia dan Romawi serta Nasrani, maka wajar bila Nabi r tidak melakukannya karena hal ini tergolong sikap mengekor dan meniru-niru (tasyabbuh) kaum kafir.

Oleh Sandhy lagi


[1] HR. Muslim, 2/819;  Kitaabush Shiyaam.

[2] Lihat ar-Raddul Qowy h. 61-62.

[3] HR.at-Tirmidzy no.747, dishahihkan al-Albany di al-Irwa no. 949

[4] An-Nihaayah karya Ibnul Atsir (IV/449).

[5]  HR. Muslim, 4/1987;  Kitabul Birr  was Shilah wal Adab.

[6]  HR. Muslim, 4/1988;  Kitabul Birr  was Shilah wal Adab.

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: